Tampilkan postingan dengan label kafilah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kafilah. Tampilkan semua postingan
Peringatan Tuhan tentang kiamat
QS(7)187: "Yasaluunaka 'anissaa'ati ai-yaana mursaahaa qul innamaa 'ilmuhaa 'inda rabbii laa yujalliihaa liwaqtihaa ilaa huwa tsaqulat fiis-samaawaati wal ardhi laa ta'tiikum ilaa baghtatan yasaluunaka kaannaka hafii-yun 'anhaa qul innamaa 'ilmuhaa 'indallahi walakinna aktsarannaasi laa ya'lamuun(a)."
Artinya: "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: 'Bilakah terjadinya'. Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Rabb-ku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu, melainkan dengan tiba-tiba'. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Rabb, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui'."
QS(22)1: "Yaa ai-yuhaannaasuuttaquu rabbakum inna zalzalatassaa'ati syayun 'azhiimun."
Artinya: "Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhan-mu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat)."
QS(39)68: "Wanufikha fiish-shuuri fasha'iqa man fiis-samaawaati waman fiil ardhi ilaa man syaa-allahu tsumma nufikha fiihi ukhra fa-idzaa hum qiyaamun yanzhuruun(a)."
Artinya: "Dan ditiuplah sangkakala (pertama), maka matilah, siapa yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi (sangkakala kedua), maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)."
QS(101): "Al-qaari'at(u). Maal qaari'at(u). Wamaa adraaka maal qaari'at(u). Yauma yakuunun-naasu kal faraasyil mabtsuuts(i). Watakuunul jibaalu kal 'ihnil manfuusy(i)."
Artinya: "Hari Kiamat. Apakah hari Kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran. Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan."
QS(99): "Idzaa zulzilatil ardhu zilzaalahaa, Wa-akhrajatil ardhu atsqaalahaa, Waqaala-insaanu maa lahaa, yawma-idzin tuhadditsu akhbaarahaa, bi-anna rabbaka awhaa lahaa, yawma-idzin yashduru alnnaasu asytaatan liyuraw a’maalahum, faman ya’mal mitsqaala dzarratin khayran yarahu, waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarahu."
Artinya: "Apabila bumi digoncangkan, dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: 'Mengapa bumi (jadi begini)?', pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula."
Demikian disampaikan guna dipahami dengan sebaik-baiknya. Wass wr wb
AR Yusuf
Pembina JmI
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Mengenal HAJARUL-ASWAD"
Banyak pendapat tentang apa sebenarkan HA itu, rasanya TIDAK mungkin dapat diketahui dengan pasti, bila HANYA sebatas pendapat.
HA adalah MALAIKAT ZURIAT (salah-satu dari sekian banyaknya MALAIKAT), yang dijelmakan menjadi BATU HITAM.
TUGASnya adalah menyaksikan atas Umat Muhammad yang datang memenuhi UNDANGAN Allah dan RasulNya) pada saat Umrah dan Haji.
Yang berfungsi sebagai foto otomatis, seperti umpamanya:
barang siapa yang ingin masuk Bank, yaitu orang yang memang ada tujuan /kepentingan berurusan dengan BANK, tentu telah direkam secara otomatis di dalamnya. Begitupun bagi umat islam yang telah mengenal hakikat haji dan umrah melalui pengenalan HA, di saat beristilam kepada HA; tanda dimulainya tawaf, maka:
“Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah”:
Artinya:
"PANDANGAN YANG BANYAK PADA YANG SATU(AMIN ya ALLAH), pandangan YANG SATU DALAM YANG BANYAK."
Itulah gunanya kita mengelilingi BAITULLAH sebanyak 7 kali.
"MANA Kiblat YANG DAHULU":
Firman Tuhan:
QS(3)96:
"Inna awwala baitiw wudhi'a lin naasi lal ladzii bi bakkata mubaarakaw wa hudal lil aalamiin. Fiihi aayaatum bayyinaatum maqaamu ibraahiima wa man dakhalahuu kaana aamina."
Artinya:
"Sesungguhnya inilah mula-mula RUMAH (BAITULLAH DI MAKKAH; BELUM ADA RUMAH DI PERMUKAAN BUMI INI, termasuk MASJIDIL AQSA, karena itu dibangun di zaman Nabi Sulaiman),YANG AKU NYATAKAN BAGI MANUSIA, BERKAT UNTUK IBADAH (artinya ibadah yang dilakukan oleh manusia akan MEMPUNYAI NILAI HAKEKAT, bila MENGETAHUI setiap ibadahnya, MENGHADAP KIBLAT INGATANNYA DI BAITULLAH);
PETUNJUK SEISI ALAM (BUKAN BAGI ALAM, TETAPI ALAM INSAN, yaitu RUH yang bersemayam di dalam dada).
Tanda yang nyata adalah Maqom Ibrahim (bekas pijaknya Ibrahim membangun Ka'bah), MAQOM TAUHID PADA HAKIKATNYA, artinya TEMPAT KITA BERTAUHID KEPADA ALLAH DAN RASULNYA), dan barangsiapa yang masuk ke dalamnya, maka aman dia dari azabKu dunia dan akhirat.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Firman Tuhan: QS(2)142:
"Sayaquulussufahaa-u minannaasi maa walaahum 'an qiblatihimullatii kaanuu 'alaihaa qul lillahil masyriqu wal maghribu yahdii man yasyaa-u ila shiraathin mustaqiimin."
Artinya:
(142)
"Akan berkata ORANG-ORANG BODOH di antara manusia, 'KENAPA ORANG ISLAM BERPALING DARI KIBLAT YANG DAHULU ( itu BAITULLAH), rumah pertama kali dijadikan oleh ALLAH, BELUM ADA Masjidil Aqsa-Baitul Muqadis di Palestina, krn itu adanya di zaman N.Sulaiman).
Katakanlah:
'Timur dan Barat kepunyaan Allah, dia memperoleh petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya kepada JALAN YANG LURUS."
Jawabannya:
(143)
"Wakadzalika ja'alnaakum ummatan wasathan litakuunuu syuhadaa-a 'alannaasi wayakuunarrasuulu 'alaikum syahiidan wamaa ja'alnaal qiblatallatii kunta 'alaihaa ilaa lina'lama man yattabi'urrasuula mimman yanqalibu 'ala 'aqibaihi wa-in kaanat lakabiiratan ilaa 'alaal-ladziina hadallahu wamaa kaanallahu liyudhii'a iimaanakum innallaha binnaasi larauufun rahiimun."
(143)
"Demikian Kami jadikan engkau UMAT MULIA (MUKMIN ATAU RUH; menjadi SAKSI TENTANG KESALAHAN MANUSIA; BUKAN KESALAHAN MANUSIA LAIN, tetapi KESALAHAN DIRINYA SENDIRI).
Adalah RASUL MENJADI SAKSI PULA TENTANG PEKERJAAN KAMU (MUKMIN ATAU RUH TADI).
Tidaklah Kami jadikan Kiblat YANG DAHULU , supaya Kami mengetahui orang-orang YANG MENGIKUT RASUL daripada orang-orang yang berpaling imannya."
QS(2)144:
"Qad naraa taqalluba wajhika fissamaa-i fa la nuwalliyannaka qiblatan tardhaahaa fa walli wajhaka syathral masjidilharaami wa haitsu maa kuntum fa walluu wujuuhakum syathrahuu wa innal ladziina uutul kitaaba la ya'lamuuna annahulhaqqu mir rabbihim wa mallaahu bighaafilin 'am maa ya'muuun."
Artinya:
"Sesungguhnya Kami melihat WAJAHMU MENENGADAH KE LANGIT, maka SUNGGUH KAMI PALINGKAN ENGKAU (KE ARAH) KIBLAT YANG ENGKAU MENYUKAINYA. Maka PALINGKANLAH WAJAHMU KE ARAH MASJIDIL HARAM.
Dan DIMANA SAJA KAMU BERADA, maka PALINGKANLAH WAJAHMU KE ARAHNYA. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab mengetahui bahwa, (berkiblat ke Masjidil Haram) adalah BENAR DARI TUHAN MEREKA, dan Allah tidak lalai dari apa yang mereka kerjakan."
Hadist Bukhari 3532:
"Hal tarawna qiblatii haa hunaa fawallaahi maa yakhfa 'alayya khusyuu'akum walaa rukuu'akum innii la araakum min waraa i zhahrii."
Artinya:
BERKATA RASULULLAH:
"Adakah engkau PERHATIKAN KEMANA KIBLATMU?"
Demi Allah TIDAK LEPAS DARI PENGLIHATANMU CARA-CARAMU KHUSYUK DAN RUKUK.
Sesungguhnya khusyuk dan rukukmu DI BELAKANGKU KU LIHAT (ADA KAMU DI BAITULLAH PADA HAKEKATNYA APA TIDAK)."
Muslim 2354; Imam Malik Al-Muwattaq 1844:
"Hal tarawna qiblatii haa hunaa fawallaahi maa yakhfa 'alayya sujuudakum walaa rukuu'akum innii la araakum min waraa i zhahrii."
Artinya:
" BERKATA RASULULLAH: "Adakah engkau PERHATIKAN KEMANA KIBLATMU?"
Demi Allah TIDAK LEPAS DARI PENGLIHATANMU CARA-CARAMU SUJUD DAN RUKUK. Sesungguhnya sujud dan rukukmu DI BELAKANGKU KU LIHAT (ADA KAMU DI BAITULLAH PADA HAKEKATNYA APA TIDAK)."
Kenapa Rasul menjadi saksi?
Supaya menambah kepercayaan kita kpd Allah.
Firman Tuhan:
QS(48)8-9:
"Innaa arsalnaaka syaahidan wamubasy-syiran wanadziiran. Litu'minuu billahi warasuulihi watu'azziruuhu watuwaqqiruuhu watusabbihuuhu bukratan wa-ashiilaa."
Artinya:
"Sesungguhnya, Kami mengutus ENGKAU HAI Muhammad sebagai SAKSI, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, SUPAYA kamu BERIMAN-percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, lagi menguatkanNya, membesarkanNya.
Dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang."
Karena Allah menyuruh kita berjanji dengan Muhammad,
Firman Tuhan:
QS(48)10:
"Innal-ladziina yubaayi'uunaka innamaa yubaayi'uunallaha yadullahi fauqa aidiihim faman nakatsa fa-innamaa yankutsu 'ala nafsihi waman aufa bimaa 'aahada 'alaihullaha fasayu'tiihi ajran 'azhiiman."
Artinya:
“ORANG-ORANG YANG BERJANJI DENGAN ENGKAU HAI MUHAMMAD SESUNGGUHNYA BERJANJI DENGAN ALLAH. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya bahaya pelanggaran janji itu akan menimpa dirinya, dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar." Apa tugasnya Muhammad Rasulullah saw tsb? Menampung persembahan kita kepada Allah.
Karena yang menampung dan menyelamatkan persembahan kita kepada Allah adalah Muhammad SAW, maka:
Attahiyatul mubarakatus solawatut taiyibatu laillah.
Artinya:
PEMBERIAN YANG BERKAT, SHALAT YANG BAIK-BAIK, BAGI ENGKAU Hai Allah,
SIAPA MENAMPUNG MENYELAMATKAN PERSEMBAHAN TERSEBUT KEPADA ALLAH?
Maka kita baca:
Assalamu'alaika aiyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakatuh, artinya:
KESELAMATAN PENYERAHAN ITU ATAS ENGKAU HAI NABI RAHMAT DAN BERKATNYA,
begitu juga:
Assalamu'alaina wa'la 'ibadillahis salihin,
Keselamatan untuk hamba-hamba Kami yang Shalih.
Maka itu kita sudahi sembahyang kita dengan mengucapkan:
Asyahadu alla illaha illallah. Wa'asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Demikian sementaranya.
Wass wr wb.
AR Yusuf
Pembina JmI
Bekasi, 27-10-2017
Mengapa mereka tidak mau beriman

Mengapa Mereka Tidak Mau Beriman?
Meskipun semua orang Yahudi dan Nasrani mengetahui bahwa Muhammad adalah benar-benar Utusan Allah, akan tetapi rupanya kedengkian telah menghalangi mereka untuk beriman kepada beliau dan mengunci mati hati mereka. Sedemikian jelas dan terperincinya pengetahuan yang mereka miliki tentang Rasulullah, sampai-sampai dapat dikatakan bahwa pengetahuan mereka itu cukup dapat membuat mereka beriman kepada Rasulullah walau dengan sekali melihat saja. Hal itu dapat terjadi karena mereka benar-benar mengetahui semua ciri, karakter, dan sifat sang nabi yang dijanjikan.
Al-Qur`an menyatakan fakta ini dalam sebuah ayat yang berbunyi: “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 146).
Di dalam ayat ini, Allah sengaja tidak menyebutkan nama sang nabi yang dijanjikan dan hanya menggunakan kata ganti (dhamîr) orang ketiga ‘ـه’ untuk menyatakan bahwa semua Ahlul Kitab telah mengetahui dengan baik sang Nabi Penutup. Itulah sebabnya, ketika Allah menyebut sosok sang nabi dengan kata ganti orang ketiga, kalangan Ahlul Kitab langsung mengetahui bahwa yang dimaksud oleh ayat di atas adalah sang nabi yang namanya telah disebutkan di dalam Taurat dan Injil sebagai Ahmad atau Muhammad Saw. yang telah mereka kenal melebihi anak-anak mereka sendiri.
Diriwayatkan dari Umar ibn Khaththab ra., suatu ketika dia bertanya kepada Abdullah ibn Salam: “Apakah kau mengenal Muhammad seperti kau mengenal anakmu?” Abdullah ibn Salam menjawab: “Ya, bahkan aku jauh lebih mengenal beliau. Sang Terpercaya turun dari langit menemui sang Terpercaya di bumi dengan penjelasan tentang sifat beliau sehingga akupun mengenal beliau. Sedangkan anakku, aku tak tahu apakah ia benar-benar dari ibunya.”[1]
1-Kecemburuan dan Dengki
Ya. Para Ahlul Kitab memang telah mengenal Rasulullah dengan baik. Akan tetapi kita tahu bahwa keimanan dan pengetahuan adalah dua hal yang berbeda. Mereka mengenal Rasulullah dengan baik tapi tak mau beriman kepada beliau. Rupanya kecemburuan dan rasa dengki telah menjadi dinding pemisah yang menghalangi mereka untuk beriman kepada beliau.
“Dan setelah datang kepada mereka Al-Qur`an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la`nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS al-Baqarah [2]: 89).
Ayat di atas menjelaskan kepada kita tentang penyebab keengganan Ahlul Kitab untuk beriman kepada Rasulullah Saw. Ternyata semuanya bermuara pada bahwasannya sang Nabi Penutup bukan berasal dari kalangan Yahudi. Seandainya saja Rasulullah muncul dari kalangan Yahudi, pasti akan lain ceritanya.
Salah satu bukti asumsi ini adalah pernyataan Abdullah ibn Salam ra. sesaat setelah memeluk Islam. Dia berkata kepada Rasulullah Saw.: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kaum Yahudi adalah orang-orang yang paling pendusta. Jika mereka mengetahui keislamanku sebelum kau bertanya kepada mereka, mereka pasti akan menuduhku dengan hal yang buruk.”
Beberapa orang Yahudi datang dan Abdullah pun masuk ke dalam ruangan.
Rasulullah lalu bertanya kepada mereka: “Seperti apakah Abdullah ibn Salam di antara kalian?”
“Dia adalah orang yang paling alim di antara kami,” jawab mereka, “Anak dari orang yang paling alim di antara kami, paling baik di antara kami, dan anak dari orang yang paling baik di antara kami.” Rasulullah menukas: “Bagaimana jika kalian mengetahui bahwa Abdullah telah masuk Islam?” “Semoga Allah melindunginya dari hal itu!” sergah mereka. Abdullah ibn Salam pun muncul ke tengah mereka seraya berujar: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Utusan Allah.” Tiba-tiba saja orang-orang Yahudi itu berseru: “Dia adalah orang yang paling jahat di antara kami dan anak dari orang yang paling jahat di antara kami.” Dan mereka terus menyerang Abdullah ibn Salam.[2] Peristiwadi atas menjelaskan dengan gamblang betapa ternyata kaum Yahudi sangat mengenal Rasulullah. Tapi sayangnya kedengkian yang mereka miliki telah menghalangi mereka untuk beriman.
Berkenaan dengan topik ini, saya ingin menuturkan kisah Salman al-Farisi ra. sebagai sebuah bukti unik yang perlu Anda ketahui.
Pada mulanya, Salman al-Farisi adalah seorang Majusi. Tapi rupanya ia begitu merindukan agama yang benar. Sampai suatu ketika Salman pun memeluk agama Nasrani dan tinggal di sebuah gereja. Ketika pendeta gereja yang didiami Salman wafat, dia pun bertanya kepada si pendeta agar menitipkannya kepada pendeta lain. Demikianlah hal itu berulang beberapa kali sehingga membuat Salman al-Farisi berpindah dari satu pendeta ke pendeta lain. Sampai akhirnya ketika Salman kembali akan ditinggal mati pendeta yang didampinginya, pendeta itu berkata: “Wahai anakku, demi Allah aku tidak tahu ada orang yang seperti kami ini sehingga dapat kutitipkan engkau padanya. Akan tetapi sebentar lagi akan tiba zaman seorang nabi yang akan diutus dengan agama Ibrahim as. Dia akan muncul dari Arab. Tempat hijrahnya adalah sebuah negeri di antara dua dataran bertanah hitam. Di antara keduanya banyak kurma yang memiliki ciri-ciri menonjol. Dia mau memakan hadiah tapi tidak mau memakan sedekah. Di antara dua bahunya ada Segel Kenabian. Jika kau dapat menemukan negeri itu, maka lakukanlah.”
Salman menuturkan kisahnya:
Setelah pendeta itu wafat, aku pun pindah ke Amuriyah dan menetap beberapa lama di situ. Lalu datanglah serombongan saudagar kabilah Kalb asal Arab. Aku berkata kepada mereka: “Ajaklah aku ke negeri Arab, dan aku akan memberikan sapi dan barang-barangku ini sebagai imbalan.” Orang-orang itu menjawab: “Baiklah.” Aku pun menyerahkan barang-barangku dan mereka mengajakku pergi. Sesampainya aku di Wadil Qura, mereka menzalimi diriku dengan menjualku sebagai budak kepada seorang lelaki Yahudi. Sejak saat itu, aku tinggal bersama si Yahudi itu. Setibanya di tempat tinggal si Yahudi, kulihat banyak pohon kurma sehingga aku pun berharap semoga tempat itu adalah negeri yang disebutkan si pendeta. Tapi aku belum dapat memastikan hal itu. Suatu ketika, di saat aku sedang bersama tuanku, tiba-tiba datanglah salah seorang sepupunya yang berasal dari Bani Quraizhah, Madinah.[3] Aku lalu dijual kepada si sepupu itu yang langsung membawaku ke Madinah. Demi Allah, kulihat kota Madinah persis seperti yang dijelaskan oleh si pendeta. Aku pun tinggal di kota itu. Ternyata tak lama kemudian Rasulullah diangkat menjadi nabi di Mekah tanpa pernah kudengar berita tentang beliau karena aku begitu sibuk melayani tuanku. Beberapa lama kemudian, Rasulullah berhijrah ke Madinah. Pada suatu hari, demi Allah ketika aku sedang berada di atas sebatang pohon kurma sementara tuanku berada di bawah, tiba-tiba tuanku kedatangan seorang sepupunya yang langsung berseru: “Wahai fulan, semoga Allah menghancurkan Bani Qailah! Demi tuhan, sekarang mereka berkumpul di Quba` bersama seorang lelaki yang baru tiba hari ini dari Mekah. Mereka yakin bahwa lelaki itu adalah seorang nabi.”
Salman melanjutkan ceritanya…
Demi mendengar itu, aku pun terkejut sampai-sampai aku nyaris jatuh menimpa tubuh tuanku. Aku buru-buru turun dari pohon kurma seraya berkata kepada sepupu tuanku: “Apa yang tuan katakan tadi?” Tuanku pun naik darah tindakanku itu dan dia memarahiku habis-habisan. “Apa yang kau lakukan?! Cepat kau lanjutkan pekerjaanmu!” “Tidak ada apa-apa, Tuan,” jawabku, “Hamba hanya ingin menegaskan apa yang dikatakan sepupu Tuan ini.”
Kebetulan pada saat itu aku memiliki sebungkus makanan. Menjelang petang, kubawa makanan itu menuju Rasulullah Saw. yang masih berada di Quba`. Setibanya di sana, aku langsung menemui beliau lalu berkata: “Aku dengar kau adalah seorang saleh. Di sini kau bersama orang-orang asing yang pasti berkekurangan. Ini kubawakan sedikit makanan sebagai sedekah dariku. Tampaknya kalian sangat layak menerima sedekah ini.” Aku lalu beringsut sambil terus memperhatikan Rasulullah. Beliau berkata kepada para sahabat yang ada di situ: “Ayo makanlah kalian!” Tapi setelah berkata begitu Rasulullah hanya diam dan sama sekali tidak menyentuh makanan yang kubawa itu. Ketika melihat itu, aku pun bergumam: “Hm, ini tanda pertama.”
Beberapa hari kemudian, aku kembali mengumpulkan sebungkus makanan. Pada saat itu Rasulullah telah tinggal di Madinah. Aku pun kembali mendatangi beliau lalu berkata: “Kulihat kemarin lusa kau enggan memakan sedekahku, oleh sebab itu ini kubawakan makanan lagi sebagai hadiah dan penghormatan dariku untukmu.” Dan ternyata kemudian kulihat Rasulullah menyantap makanan itu bersama para sahabat beliau. Ketika melihat itu, aku pun bergumam: “Hm, ini tanda kedua.”
Selang beberapa lama kemudian, aku mendatangi Rasulullah yang sedang berada di Baqi’ al-Gharqad[4] untuk memakamkan jenazah salah seorang sahabat. Pada saat itu, Rasulullah sedang duduk di tengah para sahabat. Setelah mengucap salam, aku berjalan ke belakang beliau untuk mencari Segel Kenabian (Khâtam al-Nubuwwah) yang dikatakan oleh si pendeta. Ketika melihatku berjalan ke belakangnya, Rasulullah pun menyadari bahwa aku sedang meneliti sesuatu. Tiba-tiba saja beliau menurunkan surban yang menutup punggung beliau sehingga aku melihat dengan jelas Segel Kenabian yang kucari-cari. Kontan aku langsung memeluk Rasulullah sambil menangis. Rasulullah lalu berkata: “Lepaskanlah pelukanmu.” Aku pun mundur selangkah dan duduk di hadapan Rasulullah. Lalu kuceritakan kepada Rasulullah semua kejadian yang telah kulalui. Rasulullah dan para sahabat terheran-heran dengan ceritaku.[5]
2-Rasa Persaingan
Mughirah ibn Syu’bah menuturkan:
Hari pertama aku mengenal Rasulullah adalah ketika aku berjalan bersama Abu Jahal menyusuri sebuah jalan kota Mekah. Pada saat itulah aku bertemu Rasulullah. Kala itu beliau berkata kepada Abu Jahal: “Wahai Abul Hakam, apakah kau mau mengikut jalan Allah dan rasul-Nya? Aku akan mengajakmu ke jalan Allah.”
Abu Jahal menjawab: “Wahai Muhammad, apakah kau mau berhenti menghina tuhan-tuhan kami? Bukankah yang kau inginkan adalah kami bersaksi bahwa kau telah menyampaikan ajaranmu itu? Maka kami bersaksi bahwa kau memang telah menyampaikan ajaranmu. Demi Alah, seandainya aku tahu bahwa apa yang kau katakan itu benar, aku pasti akan mengikutimu.”
Rasulullah pun berlalu meninggalkan kami. Lalu Abu Jahal menoleh ke arahku seraya berkata: “Demi tuhan sebenarnya aku tahu bahwa apa yang dia katakan memang benar. Tapi ada satu hal yang menghalangiku dari mengimani dia, yaitu bahwa duu Bani Qushay berkata: ‘Kami memiliki hak al-hijâbah.’ Kami pun menyahut: ‘Baik!’ Lalu mereka berkata lagi: ‘Kami memiliki hak al-siqâyah.’ Kami pun menyahut: ‘Baik!’ Lalu mereka berkata lagi: ‘Kami memiliki hak al-nadwah.’ Kami pun menyahut: ‘Baik!’ Lalu mereka berkata lagi: ‘Kami memiliki hak al-liwâ`.’ Kami pun menyahut: ‘Baik!’ Lalu mereka memberi makanan sebagaimana kami juga memberikan makanan. Sampai ketika ‘bahu kami bersentuhan’[6], mereka berkata: ‘Dari kami ada seorang nabi.’ Kalau itu maka Demi tuhan aku tidak akan menyetujuinya.”[7]
Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa suatu ketika Abu Jahal berkata: “Kami sering berlomba untuk meraih kehormatan dengan Bani Abdu Manaf. Ketika mereka memberikan makanan, kami pun memberikan makanan; ketika mereka memuat barang perniagaan, kami pun memuat barang perniagaan; ketika mereka memberi, kami pun memberi. Sampai ketika ‘bahu kami bersentuhan’ dan kami seperti kuda pacu, mereka berkata: ‘Dari kami ada seorang nabi yang mendapat wahyu dari langit.’ Bagaimana mungkin kami akan mengakui itu? Demi tuhan kami tidak akan pernah mau mendengar atau mempercayainya selamanya!”[8]
Para tokoh Quraisy lalu bertemu dan memutuskan untuk mengutus Utbah ibn Rabi’ah untuk berbicara dengan Rasulullah agar beliau berhenti berdakwah. Utbah adalah salah satu pemimpin Quraisy yang paling utama. Selain itu, dia juga terkenal petah lidah dan kaya raya.
Singkat cerita, Utbah pun menemui Rasulullah Saw. dengan maksud untuk beradu argumentasi. Setibanya di hadapan Rasulullah, Utbah bertanya: “Wahai Muhammad, siapakah yang lebih baik: engkau atau Abdullah?” Rasulullah tidak menjawab. Utbah bertanya lagi: “Siapakah yang lebih baik: engkau atau Abdul Muthallib?” Lagi-lagi Rasulullah tidak menjawab. Tampaknya, diamnya Rasulullah itu adalah jawaban yang paling tepat untuk seorang dungu. Utbah lalu bertanya lagi: “Jika kau menyatakan bahwa mereka lebih baik darimu, maka sungguh mereka telah menyembah semua tuhan yang kusembah. Tapi jika kau menyatakan bahwa kau lebih baik dari mereka, maka lekaslah bicara agar kudengar penjelasanmu.”
Setelah Utbah berhenti berkata-kata, Rasulullah bertanya: “Apakah kau sudah selesai wahai Utbah?”
“Ya,” jawab Utbah.
Rasulullah lalu melafalkan beberapa ayat dari surat Fushshilat: “Hâ Mîm. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula).’ Katakanlah: ‘Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan (Nya), (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh mereka mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagi-Nya? (Yang bersifat) demikian itulah Tuhan semesta alam.’ Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka hati.’ Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Jika mereka berpaling maka katakanlah: ‘Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum `Ad dan kaum Tsamud’.” (QS Fushshilat [41]: 1-31).
Ketika Rasulullah baru sampai ayat ketiga belas, tiba-tiba tubuh Utbah berguncang seperti orang yang terserang demam. Tokoh Quraisy itu mengulurkan tangannya ke mulut Rasulullah seraya berseru: “Diamlah kau Muhammad, demi Tuhan yang kau imani!”
Utbah kemudian beranjak meninggalkan Rasulullah dan menemui para tokoh Quraisy yang telah menunggunya. Ketika melihat Utbah muncul, para tokoh itu saling berbisik: “Sungguh Demi tuhan Abul Walid datang dengan wajah yang sama sekali berbeda dengan wajahnya saat berangkat tadi.” Mereka lalu mengerumuni Utbah dan bertanya: “Apakah gerangan yang terjadi padamu wahai Abul Walid?” Utbah menjawab: “Demi tuhan barusan aku mendengar kata-kata yang tak pernah kudengar sebelumnya. Demi tuhan itu sama sekali bukan syair atau mantra. Wahai kaum Quraisy, patuhlah kepadaku dan jadikanlah ketaatan itu demi aku. Biarkanlah dia dengan apa yang dilakukannya itu dan jangan usik dia. Demi tuhan, ucapannya yang kudengar itu mengandung berita besar. Jika orang Arab menyerangnya, maka dia akan mengalahkan mereka semua tanpa bantuan kalian. Jika dia berhasil menaklukkan bangsa Arab, maka kekuasaannya adalah kekuasaan kalian juga serta kemuliannya adalah kemuliaan kalian juga sehinga kalian menjadi manusia paling bahagia dengannya.” Demi mendengar ucapan Utbah itu, para tokoh Quraisy pun berkata: “Demi tuhan rupanya dia telah menyihirmu dengan ucapannya.” Utbah menukas: “Inilah pendapatku. Lakukanlah apapun terserah kalian!”[9]
3-Beberapa Sebab Lain
Sikap yang ditunjukkan para tokoh Quraisy seperti tersebut di atas sama sekali bukanlah sikap pribadi yang hanya dilakukan satu atau dua orang, melainkan sebuah sikap kolektif yang umum mereka tunjukkan. Namun selain sikap dengki dan rasa tak mau tersaingi, masih ada beberapa sebab lain yang menghalangi orang-orang Quraisy untuk beriman kepada Rasulullah, misalnya sifat takut, tamak, rakus, dan keras kepala. Ya. Jadi meski mereka mengatahui bahwa Muhammad Saw. memang benar-benar seorang nabi, tapi mereka bersikap kepala batu untuk dapat beriman kepada ajaran beliau. Berkenaan dengan sikap keras seperti inilah al-Qur`an pernah menghibur Rasulullah dengan ayat yang berbunyi: “Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’âm [6]: 33).
Lewat ayat ini seakan-akan Allah berkata kepada Rasulullah:
Mereka memang selalu menuduhmu dengan berbagai kebusukan sehingga kau merasa sedih disebabkan hal itu. Tapi janganlah kau bersedih atas apa yang dituduhkan padamu itu karena mereka adalah orang-orang yang kalah oleh nafsu mereka sendiri, terpenjara oleh syahwat, dan tak berdaya melawan musuh. Sebenarnya mereka tidak mendustaimu, sebab mereka tak mungkin mengatakan bahwa kau adalah seorang pendusta. Dulu mereka sudah biasa memanggilmu al-Amîn, yang terpercaya, maka lihatlah betapa dungunya mereka. Karena ternyata mereka telah mendustai diri mereka sendiri. Oleh sebab itu, kau tak perlu bersedih…
Ya. Jika pada saat itu harus ada pihak yang bersedih, maka yang paling layak untuk bersedih adalah orang-orang yang memusuhi sang rasul yang ditangannya tergenggam kebahagiaan dunia dan akhirat, serta orang-orang yang tidak mau membuka hati mereka bagi cahaya yang sebenarnya memarcar tak jauh dari mana mereka berada.
[1] Mukhtashar Tafsîr Ibnu Katsîr, al-Shabuni 1/140; Lihat: al-Durr al-Mantsûr, al-Suyuthi 1/357.
[2] Al-Bukhari, al-Anbiyâ` 1, Manâqib al-Anshâr 51; al-Musnad, Imam Ahmad 3/108, 271, 272.
[3] Saat itu masih bernama Yatsrib, penerj-
[4] Baqi’ al-Gharqad adalah nama sebuah kompleks pemakaman, penerj-
[5] Al-Sîrah al-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam 1/228-234.
[6] Yang dimaksud “bahu bersentuhan” (tahâkat al-rukab) adalah kedudukan yang setara, penerj-
[7] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 3/83; Kanz al-‘Ummâl, al-Hindi 14/39-40.
[8] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 3/83.
[9] Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Ibnu Katsir 3/81-82; al-Sîrah al-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam 1/313.
ILMU TENTANG TITIK BA'
Syaf Rizal bersama Abi Hasan dan 45 lainnya.
Di Grup Jsmmiyatul Islamiyyah Facebook
31 Agustus pukul 20:17 ·
ILMU TENTANG TITIK BA

Kisah ini di tuliskan angku mudo payakumbuah....
Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan orang yang banyak menuntut ilmu ,dia sudah pergi kemana saja untuk menuntut ilmu banyak tempat ia lalui dan banyak pula ilmu ilmu hebat yang dia pelajari seperti ilmu silat,Ilmu muda,Ilmu Ramuan,Ilmu Tegak Alif dll tetapi akhirnya dia berpesan kepada saya ilmu terakhir yaitu ILMU TITIK BA' .
Ilmu ini sudah pernah kita pelajari dahulu saat kita masih berada di alam kantan kuntum makhfiyan/alam syahadah (alam sebelum alam rahim ibu) ilmu yang langsung di ajarkan Allha Ta’ala. Namun ilmu itu terlepas dalam genggaman kita saat terlahir kedunia yang fana ini.
Jadi ilmu apa nan wajib kita pelajari? Ilmiseperti apa yang kita tuntut?
jawabannya : Ilmu yang menyampaikan kita kepada tuhan yaitu Ilmu Hakikat dan Makrifat sesuai dengan bunyi firman Allah Ta’ala dalam Al-Quran:
“ Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56).
Lagi firman Allah Ta’ala dalam hadis qudsi:
“Dahulu AKU (ALLAH) adalah perbendaharaan yang tersembunyi, lalu AKU berkeinginan agar dikenal,m AKU jadikan makhkuk (Muhammad SAW) agar dia kenal/makrifat kepadaKU "
Man ‘arofa nafsahu fakod ‘arofa robbahu.
Artinya: ”Barang siapa kenal dengan diri maka akan kenal dengan Tuhan”
Jadi .....sangkutan yang sedikit ini yang mesti kita pelajari, hendaklah kita mengenal diri kita yang sebenarnya dan jangan menunda nunda belajar tentang diri.
Al ‘Arif Billah Asy Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi rahmatullah ‘alaihi dalam kitabnya TanwirulQulub berkata:
“Maka seyogyanya bagi orang yang berakal agar mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menuntut ilmu makrifat dan tidak menunda-nunda dalam hal itu. Janganlah terjadi, bila maut datang menjelang kebutaan karena kebodohan datang menimpa ( akhirnya) tak ada lagi jalan untuk melihat cerah.
Allah berfirman :
”DAN SIAPA YANG BUTA DALAM DUNIANYA SEKARANG INI, MAKA DIAKHIRAT KELAK MALAH LEBIH BUTA LAGI”
Kalau kita simak segala isyarat huruf Islam dan Basmalah terasa adanya kemiripan yang seluruhnya bertumpu pada huruf ALIF atau TITIK BA, dan terasa pula adanya kesatuan pengertian yang sangat indah dan mengagumkan hal ini bukanlah suatu kebetulan tetapi bisa diperkirakan bahwa semua ini sudah lebih dahulu “diprogramkan” , tersedia dalam “disket-disket” komputerisasi Allah SWT.
Alkisah..
Konon dikisahkan orang seorang pemuda sedang mencegat seorang tua renta ditengah jalan untuk merampas hartanya. Ternyata si tua renta itu hanya memiliki seuntai tasbih, dengan ketenangan dan sambil tersenyum menghias bibir si Tua renta itu menyerahkan seuntai tasbih karena itulah hanya harta yang dibawanya, seraya ia berkata :
“Silahkan kau ambil ini Hai anakku” tetapi kalau ingin yang lebih banyak lagi cobalah kau tengok pohon enau itu ”. Si anak muda menoleh ke pohon enau yang ditunjukkan oleh si Tua. Betapat terkejut ia setelah melihat pohon enau benar-benar emas dari akar sampai kedaun. Si anak muda-pun menyadari bahwa yang beada dihadapannya bukan orang sembarangan tetapi seorang sakti mandraguna. Si pemuda segera meminta maaf serta mencium tangan si Tua seraya bermohon :
“Wahai Tuanku perkenankanlah hamba untuk bisa menjadi murid Tuanku dan hamba mohon maaf dan ampun atas perlakuan hamba tadi terhadap tuanku”.
Si Tua memandang pemuda itu dengan penuh selidik dan berkata:
“ilmu apa yang engkau inginkan dariku?”. Si Pemuda menjawab sambil menundukkan kepala:
”ajarilah hamba ILMU TITIK BA duhai Tuanku”.
Sambil tersenyum,si Tua meraih bahu si Anak Muda dan menyuruhnya berdiri :
”Baiklah,tetapi aku harus pulang dahulu dan engkau tunggu aku disini”.
Beliaupun pergi......Sekitar tiga tahun kemudian si Tua baru ingat bahwa ia telah berjanji kepada seorang pemuda yang dahulu pernah hendak merampas hartanya ditengah jalan-untuk mengajarkan Ilmu Titik Ba..
Sebagai seorang yang selalu setia kepada janji beliaupun segera bergegas berangkat menuju arah pertemuan mereka dahulu Betapa terkejutnya si Tua melihat si Pemuda sedang duduk semedi ditempat mereka janjikan dahulu di pinggir sungai/kali. Si Pemuda terlihat kurus dan dilingkari oleh jalaran daun-daunan .Si Tua segera membangunkan si Pemuda dan langsung diberi nama “KALIJOGO“ (penjaga kali). Si Tua Sakti Mandraguna itu tidak lain dari seorang Waliullah, yang terkenal dengan nama “SUNAN BONANG”.
Dari jalinan kisah ini dapatlah dipahami bahwa “Ilmu Titik Ba” sudah menjadi pegangan Para Wali ditanah jawa. Setelah saya (Angku Mudo) mendengar kisah seperti ini,l saya tanyak kepada Guru saya :
”Guru…saya mendengar kisah Ilmu Titik Ba dikisahkan disini Ilmu Titik Ba ini adalah Ilmu pegangan Para Wali-Wali Allah, apo benar itu guru ....?,apa benar Ilmu Titik Ba ini?”
Lalu di jawablah oleh guru saya :
” Ilmu Titik Ba adolah ilmu yang sedang kamu tuntut sekarang ini....”,
“Allah Ta’ala telah menurunkan wahyunya kepada Nabi dan Rosul sebanyak 104 :
30 shuhuf kepada Nabi Adam AS.
60 shuhuf kepada Nabi Stist AS.
10 shuhuf kepada Nabi Ibrahim AS.
1 kitab Taurat kepada Nabi Musa AS.
1 kitab Zabur kepada Nabi Daud AS.
1 kitab Injil kepada Nabi Isa AS.
1 kitab Al-Quran kepada Rosulullah SAW.
Ketahuilah olehmu kitab yang 104 diturunkan Allah Ta’ala kepada segala Nabi dan Rosulullah maka maknanya itu terhimpun kepada Al-Quran yang 30 juz dan Al-Quran 30 juz terhimpun maknanya pada surat Al-Fatiha dan surat Al-Fatiha terhimpun maknanya kepada Bismillah dan Bismillah terhimpun maknanya kepada huruf Ba dan Ba terhimpun kepada titik dan Titik Ba atau nakutoh terhimpun kepada benih yang ditanam Allah Ta’ala pada hati hambanya A.. I.. bukan A.. bukan I.. tiada berhuruf melainkan adalah ucap nur semata-mata yakninya nur iman dan nur petunjuk pemberian Allah Ta’ala,maka berkekalan para Arifbillah mangamalkan kitab yang 104”.
Jikalau diketahui jadi pahala besar jikalau tidak diketahui maka lepas begitu saja. Apabila putus gerak-geraknya hilang kalimah hilang cahaya mengucap hati ketika itu “lailahaillalllah” nyawa kembali kehadirat Tuhan karena bahwasanya A.. I.. merupakan satu potongan daripada lailahaillallah dinamakan zikir nyawa, urat yang terbit dari tali Allah-Allah 6666 semuanya itu bergerak, dapat satu gerak faidahnya setamat Quran, karena ia di dalam Quran sebanyak itu pula.
Segala yang tersebut itu adalah alat bergantung diatas alat tidak sampai bekerja tanpa alat tentu tidaklah menjadi ia hanyalah titian keseberang jenjang tempat naik. Alasan nyawa adalah Tuhan Allah yang punya pekerjaan dan katanya Allah Ta’ala pada demikian:
“Katakan wahai engkau ya muhammad bermula nan nyawa itu pekerjaan Tuhan aku dan adalah sifatnya dan baginya berhubung dengan daging yang bernama sanubari dan adalah hati yang bernama lathifah robbaniyah itu, yaitu yang bernasab kepada alamul amri (alam yang sangat tinggi) dan ialah yang mengetahui akan Allah Ta’ala, yang mendapat ia bagi barang yang tiada mendapat oleh …
artinya rupa-rupa dan …sangka dan hati yang bernama latifah robaniyah itu yaitu hakikat insan itulah yang dikatakan diri sebenarnya diri”.
Dapat kita ambil kesimpulan “Ilmu Titik Ba” atau nakutoh terhimpun kepada benih yang ditanam Allah Ta’ala pada hati hambanya dan berhubung dengan daging yang bernama sanubari.
Adapun “jantung” itu terletak dibawah susu kiri dan condong kekiri, dan dia dibangsakan kepada alam “Musyahadah” dan dapat dilihat dengan mata kepala serta dipunyai juga oleh segala manusia dan binatang, akan tetapi yang dimaksud dengan “LATHIFATUL QALBI” bukanlah jantung dia itu adalah “Lathifah Robbaniyah “ yang sangat halus dan bernasab kepada “Alamul Amri” yaitu alam yang sangat tinggi .
- Dia tidak dimiliki segala manusia
- Dia roh yang suci yang berpengaruh dalam tubuh insan
- Dialah hakikat insan yang dinamakan diri sebenarnya diri
- Dialah yang dapat mengetahui akan segala hal
- Dialahy bertanggumg jawab dipuji atau dicerca Allah
- Dialah induk dari segala Lathifah-Lathifah yang lain
- Dialah tempat penuangan ilham dan faidi (limpahan ilahi)
- Dialah yang dapat mendekati Tuhan apabila dibersihkan dari segala najis ma’nawi serta dihiasi dengan zikrullah
- Dialah tempat jatuh penilikan Tuhan, Allah tiada menilik rupa dan hartamu, tetapi hatimulah yang ditilikNYA
Adapun asal ‘ilmu Tarikat ( Tarekat ) samanya keluar dari pada ‘ilmu syari’at tetapi dilihat dalam kitab syari’at tiada ia bertemu sebab demikian hadis nabi muhammd saw “Barang siapa mengamalkan akan ‘ilmu barang yang dia ketahui didalam ‘ilmu syariat memberi Allah Ta’ala akan ‘ilmu yang belum diketahui didalam ‘ilmu syari’at “
JADI ILMU TITIK BA ADALAH NAMA LAIN DARI ILMU TARIKAT, ilmu pegangan Para Wali-Wali Allah SWT Ilmu yang menyampaikan kita bertemu kepada Allah di dunia dan di Akhirat .
Selengkapnya baca
Ilahi anta maksudi waridhoka mathlubi
Wasalam......
SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari
Bagikan
https://mobile.facebook.com/story.php?story_fbid=2003446886335945&id=100000119599261&ref=m_notif¬if_t=group_activity
TELAAHAN TENTANG SHOLAT
PENULIS : RELIGI : TEKNIK MESIN : FACEBOOK : MULTISERVIS
Mengenal rukun shalat tidak dapat dipisahkan dengan KEPAHAMAN tentang SHALAT yang DAPAT MERUKUNKAN RUKUN SHALAT (sembahyang) tersebut.
SUBSTANSI SHALAT sudah kita mengenalNYA bahwa yang SHALAT itu adalah Ruhaniah pada kita, NAMAnya MUKMIN atau RUH-KEBENARAN yang daripada ALLAH , yang adalah sebuah KEBENARAN YANG ABSOLUT, yang ditiupkan ALLAH GUNA MENYEMPURNAKAN KEJADIAN MANUSIA; yang bersumber dari NIKMAT-RASA-ZAT yang adalah NUR atau CAHAYA; yang dianugerahkan Allah bersamaan ditiupkannya Ruh kepada setiap manusia.
Oleh karena ruhaniah kita itu, substansinya adalah kebenaran; dia adalah shalat, maka ruhaniah-lah yang sangat menentukan rukun apa tidak nya sembahyang yang dilaksanakan (tuma'ninah).
Kebanyakan umat islam; disangka sholat itu adalah dari mulai takbir sampai salam. Padahal takbir sampai salam itu termasuk rukun sholat, yaitu rukun qauli (rukun yang diperbuat oleh lidah).
Tinjauan:
Al-Quran tiga puluh juz terhimpun kepada: tujuh ayat (Fathihah); terhimpun kepada: LIMA HURUF,
yaitu AL HAM DU.
Dari lima huruf itu terhimpun pula kepada: Ba, Ba kepada Sin;
Alladzi Yuwaswisu Fi Shudurinnas, minal jinnati wannas.
Jadi usul dari Rukun Sembahyang itu adalah 7 (tujuh) ayat ummul quran + an-nas 6(enam) ayat; Menjadi 13
RUKUN SHALAT(sembahyang); yang WAJIB dirukunkan oleh RUHANIYAH- KEBENARAN TADI. (shalat tersebut); supaya tidak perkara.
Adapun rukun sembahyang yang tiga belas itu terdiri dari:
1. Niat,
2. Tegak berdiri betul,
3. Takbiratul ihram,
4. Membaca fathihah,
5. Rukuk,
6. I'tidal,
7. Sujud,
8. Duduk antara dua sujud,
9. Duduk tahiyat,
10. Membaca tahiyat,
11. Salawat atas nabi,
12. Salam yang pertama,
13. Tertib.
Rukun 13 terbagi Terbagi menjadi tiga pembahagian
A) Rukun Qalbi, yaitu rukun yang diperbuat oleh hati:
1. Niat,
2. Tertib.
B) Rukun Qauli, yaitu rukun yang
diperbuat oleh lidah:
1. Takbiratul Ihram,
2. Membaca fathihah,
3. Membaca tahiyat,
4. Salawat atas nabi,
5. Salam yang pertama.
C) Rukun Fi'li, yaitu rukun yang diperbuat oleh anggota:
1. Tegak berdiri betul,
2. Rukuk,
3. I'tidal,
4. Sujud,
5. Duduk antara dua sujud,
6. Duduk tahiyat.
Adapun Tiang Sholat/Sembahyang itu, Tiga perkara:
1. Tetap segala anggota
Sudahkah tetap niat kita tegak berdiri betul di Baitullah? Kalau belum JANGAN angkat takbiratul ihram,
2. Hadir hati akan Zat-nya Allah SWT,
3. Segala bacaan paham dengan maknanya; (BUKAN TAFSIR).
Sebelum melakukan persembahan; Hendaklah diketahui yang Enam Perkara:
1. Siapa yang Menyembah? Yakni, DIRI YANG SEBENARNYA DIRI PADA KITA,
2. Siapa yang Disembah? Yakni, ZAT-NYA ALLAH SWT,
3. Apa yang dipersembahkan? Yakni, Rukun Sembahyang yang Tiga Belas,
4. Dimana tempat menyembah? Yakni, DI TEMPAT YANG TIDAK MENSYARIKATI ALLAH,
5. Bilamana waktu menyembah? Yakni, apabila masuk waktu yang lima, seperti Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya' dan Subuh,
6. Kemana kembali sembah? Yakni, Aku KEPADA WUJUD ALLAH YANG QADIM LAGI BAQA'.
Oleh karena ruhaniah itu adalah nur atau cahaya, adalah iman adalah kitab; zat yang dimasukan oleh Allah SWT kedamaian jasad maka sempurnalah kejadian manusia. Tempatnya didalam hati manusia
QS42/52 “Waka dzaalika auhainaa ilaika ruuham min amrinaa maa kunta tadrii mal kitaabu wall al iimaanu walaakin ja’alnaahu nuuran nahdii bihii man nasyaa-u min ‘ibaadinaa wa innaka la tahdii ilaa shiraatim mustaqiim."
Artinya: “Dan demikianlah Kami WAHYUKAN KEPADA RUH dengan perintah kami. Engkau (sebelumnya) TIDAK MENGERTI APA KITAB dan APA IMAN. Tetapi, Kami menjadikan KITAB itu CAHAYA atau NUR. ( jadi RUH, IMAN, KITAB itu adalah NUR atau CAHAYA). Melalui kitab itu, Kami memberikan petunjuk kepada orang-orang yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya ALLAH menunjuki kepada jalan yang lurus."
Karena itu dikala muazin mengatakan: hayya alashsolah; kita menjawabnya: la hawla wa la quwwata illa billah; BUKAN: ana hadza sholah.
Sebab tempat merukunkan yang TIGA BELAS PERKARA itu ada di BAITULLAH; shalat didirikan di Baitullah, Rukuk-Sujud di Baitullah,
QS(2)125:
"Wa idz ja'alnal baita matsaabatal linnaasi wa amnaw wat takhidzuu mim maqaami Ibrahiima mushallaw wa' ahidnaa ilaa ibraahiima wa ismaa 'illa an thahiraa baitiya lith thaa-ifiina wal 'aakifiina warrukka'is sujuud."
Artinya: "Dan ingatlah ketika Kami MENJADIKAN RUMAH itu BAITULLAH (BUKAN KA'BAH), untuk pulang pergi manusia, dan tempat yang aman. Dan AMBIL-LAH BAITULLAH itu untuk TEMPAT SHOLAT. Bersihkanlah rumahKu untuk orang yang tawaf, i'tikaf, ruku dan sujud."
QS(22)26:
"Wa idz bawwa'naa li Ibrahiima makaanal baiti al laa tusyrik bii syai-aw wa thahhir baitiya lith thaa-ifiina walqaaimiina wa rukka'is sujuud."
Artinya Dan (ingatlah) ketika Kami TEMPATKAN IBRAHIM PADA TEMPATNYA DI BAITULLAH, seraya firman Kami, "JANGAN ENGKAU SEKUTUKAN AKU DENGAN YANG LAIN-LAIN, dan SUCIKANLAH RUMAHKU untuk orang-orang yang tawaf, orang-orang yang I'tikaf dan orang-orang yang ruku' dan sujud."
Sedangkan SHALAT itu WAJIB HUKUMNYA mengikut Rasul;
QS(24)56
"Wa aqiimush shalaata wa aatuz zakaata wa athii'ur rasuula la'allakum turhamuun."
Artinya "dan DIRIKANLAH SHOLAT, KELUARKAN ZAKAT, IKUT RASUL, supaya kamu mendapat rahmat."
SEBAB dengan BANTUAN RASULULLAH SAW lah kita dapat MERUKUNKAN RUKUN SHALAT(sembahyang) yang tiga belas tersebut. Hal demikian disebabkan MUHAMMAD SAW tersebut SAKSI, supaya MENAMBAH KEIMANAN (kepercayaan) kita kepada Allah;
QS(48)8-9: "Innaa arsalnaaka syaahidan wamubasy-syiran wanadziiran. Litu'minuu billahi warasuulihi watu'azziruuhu watuwaqqiruuhu watusabbihuuhu bukratan wa-ashiilaa."
Artinya: "Sesungguhnya, Kami mengutus ENGKAU HAI Muhammad sebagai SAKSI, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, SUPAYA kamu BERIMAN-percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, lagi menguatkanNya, membesarkanNya. Dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang."
Hadist Bukhari 3532:
"Hal tarawna qiblatii haa hunaa fawallaahi maa yakhfa 'alayya khusyuu'akum walaa rukuu'akum innii la araakum min waraa i zhahrii."
Artinya: BERKATA RASULULLAH: "Adakah engkau PERHATIKAN KEMANA KIBLATMU?" Demi Allah TIDAK LEPAS DARI PENGLIHATAN KU, CARA-CARAMU KHUSYUK DAN RUKUK. Sesungguhnya khusyuk dan rukukmu DI BELAKANGKU KU, KU LIHAT (artinya apakah ADA KAMU DI BAITULLAH APA TIDAK)."
Muslim 2354;
Imam Malik Al-Muwattaq 1844: "Hal tarawna qiblatii haa hunaa fawallaahi maa yakhfa 'alayya sujuudakum walaa rukuu'akum innii la araakum min waraa i zhahrii."
Artinya: "BERKATA RASULULLAH: "Adakah engkau PERHATIKAN KEMANA KIBLATMU?" Demi Allah TIDAK LEPAS DARI PENGLIHATANKu CARA-CARAMU SUJUD DAN RUKUK. Sesungguhnya sujud dan rukukmu DI BELAKANGKU- KU LIHAT (APAKAH ADA KAMU DI BAITULLAH APA TIDAK)."
Maka dapat dimengerti; SETELAH MUAZIN ADZAN, kita bermohon kepada Allah: AGAR MUHAMMAD RASULULLAH SAW itu,dibangkitkan di Baitullah.
Bunyinya:
"ALLAHUMMA RABBA HAADZIHID DA'WATTI TAAMMAH WASH-SHALAATIL QAA'IMAH. AATI SAYYIDANA MUHAMMADANIL WASIILATA WAL-FADHIILAH. WAS SYARAFA WAD-DARAJATAL 'AALIYATAR RAFII'A WAB'ATSHUL MAQAAMAL MAHMUUDAL LADZI WA'ADTAHU INNAKA LAA TUKHLIFUL MII'AAD".
Artinya: "YA ALLAH, BERMULA INI DO'A YANG BERKAT, SHOLAT YANG DIDIRIKAN, DATANGKAN DI ENGKAU MUHAMMAD ITU WASIILAH, BANGKITKAN DI ENGKAU AKAN DIA DI MAQOM TERPUJI. SESUNGGUHNHYA ALLAH TIADA MENYALAHI JANJI."
Dari doa adzan ini: NYATA-LAH Muhammad itu WASIILAH, Dia JALAN kepada Allah; BUKAN SILSILAH, (dari guru ke guru, dari manusia ke manusia biasa).
Kenapa demikian? Karena yang menampung dan menyelamatkan persembahan kita kepada Allah adalah Muhammad SAW.
Seperti ungkapan: Attahiyatul mubarakatus solawatut taiyibatu laillah.
Artinya: PEMBERIAN YANG BERKAT, SHOLAT YANG BAIK-BAIK, BAGI ENGKAU Hai Allah,
TETAPI SIAPA MENAMPUNG MENYELAMATKAN PERSEMBAHAN TERSEBUT KEPADA ALLAH?
Maka kita baca: Assalamu'alaika aiyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakatuh,
Artinya:
KESELAMATAN PENYERAHAN ITU ATAS ENGKAU HAI NABI RAHMAT DAN BERKATNYA,
Begitu juga: Assalamu'alaina wa'la 'ibadillahis salihin.
Maka itu kita sudahi sembahyang kita dengan mengucapkan:
Asyahadu alla illaha illallah. Wa'asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.
Itulah SEBABnya ALLAH; menyuruh kita untuk menuntut-MENCARI WASILLAH bagi ORANG TAQWA:
QS(5)35:
"Yaa ayyuhal ladziina aamanut taqullaaha wab taghuu ilaihil wasiilata wa jaahiduu fii sabiilihii la'allakum tuflihuun."
Artinya:
"Hai orang beriman, BERTAQWALAH KAMU kepada Allah dan RasulNya dan CARILAH WASIILAH kepadaNya dan BERJIHADLAH PADA JALAN-NYA supaya kamu mendapat keberuntungan."
Niat Dalam Shalat 5 Waktu
Niat sembahyang itu terbagi atas 4 pembagian, yaitu:
1. Niat tuza'iyyah artinya: menyusul lafadz dengan niat.
Dia mau shalat, tetapi saat dia akan mengambil wudhu, dia berniat akan melaksanakan sembahyang, sehingga pada waktu shalat dia tidak pakai niat lagi. Batal, karena, niat itu adalah yang dalam hati. Yang dalam hati itu yang wajib menyampaikan niatnya.
2. Niat basyithah artinya: membagi lafadz dengan niat; Allahu akbar kata mulut, Allah maha besar kata hati, juga batal.
3. Niat Hurufiyah artinya: sebelum dia mengangkat takbiratul ihram, dia telah berniat lebih dulu, dengan lafaz: "sengaja aku sembahyang..., ....rakaat karena Allah ta'ala", juga batal, sebab niatnya dilakukan secara qauli (lidah), bukan hati
4. Niat kamaliyah artinya: kesempurnaan niat. INILAH NIAT SEBENAR NIAT; NIAT AULIA dan AMBIYA, yaitu: al iman akdum bil qalbi, ikrarum bil lisan, amaalun bil alkan. Artinya
iman termaktub (tersimpan) dalam hati, diikrar dengan lidah, diamal dengan anggota.
Terhimpun kepada
qasad, ta'rat, ta'yin. Dari al iman akdum bil qalbi,ikrarum bil lisan, amaalun bil alkan,
terhimpun kepada Qasat ta'rat ta'yin.
Qasat artinya: menyengaja akan shalat (Ushali); Ta'rat artinya: menyatakan fardhunya; Ta'yin artinya menentukan waktunya, seperti dzuhur, ashar, maghrib, isya' dan subuh.
Maka niatnya: "SENGAJA AKU SHALAT FARDHU (DZUHUR/ASHAR/MAGHRIB,ISYA',SUBUH) KARENA ALLAH TA'ALA"
Terhimpun kepada huruf yang dua delapan;(BUKAN DUAPULUH DELAPAN);
1. Alif Lam Lam Ha,
2. Alif Ka Ba Ro;
Allahu Akbar bunyinya;
namanya: "TAKBIRATUL IHRAM".
Sebelum kita mendirikan shalat, WAJIB terlebih dulu kita berwudhu, APAKAH JASMANIAH SAJA YANG DISUCIKAN (DIBERSIHKAN) ketika menyembah ALLAH?), tentu bukan demikian, selain jasmaniah, TERUTAMA RUHANIAHNYA)
QS(5)6: "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu idzaa qumtum ilash shalaati fagh siluu wujuuhakum wa aidiyakum ital maraafiqi wam sahuu bi ru-uusikum wa arjulakum ital ka'baini wa in kuntum junuban faththah haruu wa in kuntum mardhaa au 'alaa safarin au jaa-a ahadum minkum minal ghaa-ithi au laamastumun nisaa-a fa lam tajiduu maa-an fa tayammamuu sha'iidan thayyiban fam sahuu bi wujuuhikum wa aidiikum minhu maa yuriidullaahu li yaj'ala 'alaikum min harajiw walaakiy yuriidu li yuthahhirakum wa liyutimma ni'matahuu 'alaikum la'allakum tasykuruun."
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mendirikan shalat maka: basuhlah mukamu dan tanganmu sampai, dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan dua mata kaki. Dan jika kamu junub maka bersucilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik, maka sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak menghendaki untuk menyulitkan kamu, akan tetapi Dia menghendaki membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya atas kamu supaya kamu bersyukur."
Bila kita perhatikan, kalau-lah wudhu itu hanya untuk mensucikan atau membersihkan jasmaniah, tentu lebih baik setelah kita mandi, bersih; TIDAK PERLU LAGI AMBIL WUDHU. Padahal yang dituju adalah KEBERSIHAN RUHANIAH itu dalam rangka mendirikan shalat; sebelum mengerjakan rukun sembahyang.
Bisikan syetan di dalam diri manusia itulah yang membuat kesalahan anggota tubuh melakukan sesuatu seperti SALAH LIHAT, SALAH DENGAR, SALAH UCAP, SALAH MELANGKAH, SALAH BERPIKIR.
Lima abad setelah wafatnya nabi Isa as; akibat sifat yang dimiliki manusia tersebut, maka terjadialah KEBIADABAN YANG TIDAK TERKENDALI. Yang KUAT BERKUASA, yang MISKIN DIINJAK, PEREMPUAN TIDAK ADA HARGANYA; semua bisa pakai. Padahal TIDAK AKAN BERKEMBANG MANUSIA YANG BANYAK INI APABILA TIDAK ADA WANITA. Lalu lahirlah Nabi Muhammad SAW; ditugaskan untuk memperbaiki kebiadaban tersebut dengan ungkapan
INNAMA BUISTU LUTAMMI MAKARIMAL AKHLAQ, melalui TARAKTU FIIKUM AMRAINI LAN TADHILLUU ABADAN MA IN TAMASSAKTUM BIHIMAA KITAABALLAAHI WA SUNNATA RASUULIHI.
Bila kita perhatikan, kalau-lah wudhu itu hanya untuk mensucikan atau membersihkan jasmaniah, tentu lebih baik setelah kita mandi, bersih; TIDAK PERLU LAGI AMBIL WUDHU. Padahal yang dituju adalah KEBERSIHAN RUHANIAH itu dalam rangka mendirikan shalat; sebelum mengerjakan rukun sembahyang.
Bisikan syetan di dalam diri manusia itulah yang membuat kesalahan anggota tubuh melakukan sesuatu seperti SALAH LIHAT, SALAH DENGAR, SALAH UCAP, SALAH MELANGKAH, SALAH BERPIKIR.
Lima abad setelah wafatnya nabi Isa as; akibat sifat yang dimiliki manusia tersebut, maka terjadialah KEBIADABAN YANG TIDAK TERKENDALI. Yang KUAT BERKUASA, yang MISKIN DIINJAK, PEREMPUAN TIDAK ADA HARGANYA; semua bisa pakai. Padahal TIDAK AKAN BERKEMBANG MANUSIA YANG BANYAK INI APABILA TIDAK ADA WANITA. Lalu lahirlah Nabi Muhammad SAW; ditugaskan untuk memperbaiki kebiadaban tersebut dengan ungkapan
INNAMA BUISTU LUTAMMI MAKARIMAL AKHLAQ, melalui TARAKTU FIIKUM AMRAINI LAN TADHILLUU ABADAN MA IN TAMASSAKTUM BIHIMAA KITAABALLAAHI WA SUNNATA RASUULIHI.
Membawa kembali kepada kiblat yang telah hilang, yaitu
Qs3/96: "Inna awwala baitiw wudhi'a lin naasi lal ladzii bi bakkata mubaarakaw wa hudal lil aalamiin."
Artinya: "Sesungguhnya ini MULA-MULA RUMAH yang KAMI NYATAKAN BAGI MANUSIA (BAITULLAH), BERKAT untuk IBADAH dan PETUNJUK SE ISI ALAM(alam insan-ruhaniyah)."
Dimantabkan dengan doa ketika mengelilingi Ka'bah;
اَللّٰهُمَّ إِنَّ هٰذَا اْلبَيْتَ بَيْتُكَ وَالْحَرَمَ حَرَمُكَ وَاْلأَمْنَ أَمْنُكَ وَالْعَبْدَ عَبْدُكَ وَأَنَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدُكَ وَهٰذَا مَقَامُ الْعَائِذِبِكَ مِنْ النَّارِ فَحَرِّمْ لُحُوْمَنَا وَبَشَرَتَنَا عَلَى النَّارِ. اَللّٰهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. اَللّٰهُمَّ قِنِيْ عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنِى الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya:
Ya Allah, sesungguhnya RUMAH ini rumahMu ya Allah (BUKAN KA'BAH), TANAH HAROM ini TANAH MULIAMU
ya Allah, negeri aman ini negeri aman Mu Ya Allah, aku ini hamba mu ya Allah
( "Abdi fil qalbil mu’miniin”, hambaKu dalam hati mereka namanya mukmin),
anak daripada hambaMu (Ana minallah wal mu'minuuna minniy),
adalah tempat ini tempat orang berlindung kepadaMu dari neraka, peliharalah daging dan kulitku dari api neraka." (Tentu Mulia Orang di dalamnya).
Dengan Kita merasakan adanya sifat itu, lalu Allah mengutus NABI MUHAMMAD SAW UNTUK MEMPERBAIKI, GUNA MENANGGULANGI KERUSAKAN-KERUSAKAN AKHLAK DAN BUDI MANUSIA DENGAN CARA YANG KOMPREHENSIF melalui MENDIRIKAN SHALAT MENGIKUT RASUL PADA HAKEKATNYA DI BAITULLAH.
AR
Langganan:
Postingan (Atom)
Buka menu navigasi CariCari Rahasia Titik BA PDF Diunggah oleh Saraswanto 94%(54)94% menganggap dokumen ini bermanfaat (54 suara) 15K tayan...
-
Buka menu navigasi CariCari Rahasia Titik BA PDF Diunggah oleh Saraswanto 94%(54)94% menganggap dokumen ini bermanfaat (54 suara) 15K tayan...