Kafillah

  1. Annemarie Schimmel
  2. Abah Guru sekumpul
  3. Apa itu Gibah?......
  4. Adapun yang wajib kita ketahui bagi Alloh ta'ala yaitu ada 20 perkara 
  5. Asmaul husna
  6. Annemarie Schimmel dan Perjumpaan dengan Gus Dur
  7. Bacaan Sholat
  8. Bagaimana seharusnya mewujudkan kesabaran
  9. Berjalanlah dijalan tuhan dan perhatikan apa yang terjadi
  10. Dalil Sholat tasbih
  11. Do'a
  12. DR.Zakir Naik
  13. Firman Tuhan yang mengatur tentang kehidupan manusia
  14. Hakekat Masjid
  15. Hikmah hati
  16. Idul adha yang jatuh pada hari jumat  
  17. Ilmu titik ba
  18. Isra Mi'rad
  19. Jihat  Jamaah tablih
  20. Kelingking mu
  21. Keutamaan shalat Subuh
  22. KH.Abdul Karim Djamak
  23. Macam-Macam sholat Sunah
  24. Mengapa mereka tidak mauberima beriman
  25. Mulai mengenal jam'iyyatul Islamiyah 
  26. Peringatan Tuhan tentang kiamat:
  27. Para Perempuan Penulis Nabi Muhammad
  28. Pebedaan kakbah dan Baitullah
  29. Perasaan orang sudah yang sudah mati
  30. Prof.Dr.Hamka
  31. Riwayat hidup dan perjuangan Sheh haji Abdurrahman Silau laut 
  32. Robohnya Surau kami
  33. Rukun Sholat 13 perkara
  34. Sejarah singkat Islam di Amerika
  35. Suara hati
  36. Sholawat badar
  37. Tasawuf
  38. Telaahan tentang sholat
  39. The last Lecturr
  40. Ungkapan Hati seorang Prof BJ Habibie Soal Akhirat
  41. Qur'an


Para Perempuan Penulis Nabi Muhammad

Dalam tradisi penulisan sejarah hidup Nabi Muhammad, kita lebih banyak mendapati para penulis lelaki. Jarang sekali kita menemukan dari penulis perempuan, apalagi penulis perempuan dari tradisi khazanah keilmuan di Indonesia yang tradisi menulis sejarahnya untuk kalangan perempuan Indonesia sangat memprihatinkan dan mengecewakan meski beberapa dekade ini semakin membaik.

Di antara yang sedikit ini, yang pertama bisa kita sebut adalah penulis terkenal Karen Amrstrong, yang menulis Muhammad, Biography of the Prophet (Muhammad, Biografi Sang Nabi) dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh beberapa penerbit.

Karen Amrstrong menggunakan pendekatan sejarah kritis dan perbandingan agama, termasuk penggunaan berbagai referensi dari tradisi agama-agama Ibrahimi dan non-Ibrahimi. Pendekatan ini menjadi penting dan relevan mengingat buku yang ditulis, seperti dikatakan Karen Armstrong:

“Terusik dengan prasangka terhadap Islam…bahkan di kalangan yang paling liberal dan toleran.”

Semua prasangka ini sebagian berangkat dari kurangnya pemahaman sejarah hidup Muhammad itu sendiri. Dan, bukan tidak mungkin hal ini juga menjangkiti umat Islam sendiri, khususnya seperti di Indonesia yang tidak terbiasa dengan tradisi sejarah kritis, bahkan penulisan sejarah Muhammad masih sangat minimalis sekali.

Saat melihat polemik perihal istri-istri Nabi Muhammad yang penuh prasangka intimidatif, Karen Armstrong memberikan perbandingan perihal masalah ini dalam beberapa agama khususnya dalam tradisi Yahudi dan Kristen.

Selain itu, ada dua alasan lagi yang dikemukakan Karen Armstrong. Yang pertama, tidak ada alasan kuat yang mendukung perihal nafsu seksual yang menyimpang atau hasrat berlebih pada kecantikan.

Kedua, ada lebih banyak alasan pernikahan politis yang dilakukan Nabi Muhammad dalam banyak pernikahannya, khususnya setelah istri pertama dan istri tercintanya meninggal, Khadijah.

Secara umum, buku biografi Nabi Muhammad karya Karen Armstrong barangkali adalah yang terbaik yang pernah ditulis oleh penulis perempuan sampai saat ini.

Dan sungguh bakal menunggu satu abad lebih bagi penulis perempuan Indonesia, barangkali, untuk menandinginya karya Karen Amstrong ini, mengingat kebudayaan menulis bagi perempuan muslim Indonesia masih tertinggal jauh.

Penulis perempuan kedua yang menggarap tema Nabi Muhammad adalah cendekiawan ulama Annemarie Schimmel yang menulis And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety (Dan Muhammad adalah Utusan Allah) yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan beberapa kali dicetak ulang.

Keunggulan buku ini, jika dibandingkan dengan buku-buku serupa, terletak pada fokusnya untuk melihat perspektif umat Islam itu sendiri terhadap Muhammad, lebih difokuskan pada bagaimana kecintaan umat Islam pada sosok Nabi Muhammad, yang bahkan lebih marah jika dihina daripada Allah.

Annemarie Schimmel memang tidak menulis tentang sejarah hidup Nabi Muhammad, tapi lebih ditekankan pada berbagai aspek Nabi Muhammad dalam kehidupan umat Islam, khususnya di Timur Tengah, khususnya dari berbagai karya tulis biografis dan hagiografis perihal Nabi Muhammad yang ditulis umat Islam.

Dengan pendekatan tersebut, Annemarie Schimmel ingin mengungkapkan peran, persepsi, dan ritual umat Islam dalam beragama terhadap sosok pribadi Nabi Muhammad Saw. Sayang, buku ini tidak memberikan bab khusus perihal perilaku cinta umat Islam di Indonesia. Dan lebih sayang sekali, sedikit sekali buku yang secara khusus mencoba melakukan apa yang ditulis Annemarie Schimmel dengan mengambil kasus perayaan maulid Muhammad di Indonesia dan dengan pendekatan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

Selain itu, Annemarie Schimmel juga menulis My Soul is a Women: The Feminine in Islam (Jiwaku adalah Wanita: Aspek Feminin dalam Spiritualitas Islam). Dalam buku elegan menawan ini, setelah prolog, Annemarie Schimmel langsung membuka bab pertama Kaum Wanita dan Nabi, dengan hadis yang sangat masyhur dalam Islam: Allah telah membuatku menyayangi dari duniamu kaum wanitadan wewangiannya, dan kebahagian bagi mataku adalah ketika shalat. Untuk menepis prasangka yang hidup di Eropa dan Amerika, di bawah hadis itu, Annemarie Schimmel kemudian menulis:

“Perkataan Nabi Muhammad ini telah sangat sering dikutip—jadi, bagaimana mungkin Islam bisa dikenal sebagai agama yang berpandangan negatif terhadap kaum wanita?”

Ada juga nama penulis cendekiawan perempuan yang dalam beberapa karyanya menulis Nabi Muhammad Saw seperti Amina Wadud dan Margaret Smith. Jika beberapa penulis perempuan ini berasal dari tradisi intelektual Eropa dan Amerika Serikat, sebenarnya ada penulis perempuan Indonesia yang juga menulis buku riwayat Muhammad, Suwarsih Djojopuspito.

Suwarsih Djojopuspito terkenal dengan novel Manusia Bebas ini—novel yang awalnya ditulis dengan bahasa Belanda dan untuk publik intelektual Belanda dan Indonesia— menulis buku Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW yang pertama kali diterbitkan pada 1959, lalu untuk cetakan kedua diterbitkan Pustaka Jaya pada 1976.

1959 adalah angka kemajuan cukup pesat, untuk tidak mengatakan cukup berani, bagi perempuan Indonesia secara historis keilmuan. Saya belum tahu apakah masih perempuan Indonesia yang berani menulis sejarah hidup Muhammad saw sampai sekarang. Yang perlu dicatat, setahuku, hanya dialah sastrawan perempuan Indonesia yang menulis biografi Muhammad sampai saat ini.

Menilik riwayat pendidikannya yang berbasis kebudayaan Eropa, perjuangan Suwarsih dalam sejarah politik dan pendidikan Indonesia, dan latar sejarah keluarga priyayi Jawa dalam pengalaman hidupnya, buku ini memberikan perspektif yang sangat menarik untuk kita baca saat ini, khususnya dilihat dari perspektif perempuan. Pada kata PENDAHULUAN yang hanya dua paragraf pendek, Suwarsih menuliskan maksud penulisan bukunya:

“Di dalam bahasa Indonesia masih sedikit sekali buku-buku yang menceritakan riwayat Nabi Muhammad s.a.w. dengan kata-kata dan cara, yang sesuai dengan alam pikiran pemuda dan pemudi jaman sekarang.”

Yang menarik, sebelum diterbitkan, Suwarsih meminta cendekiawan kondang H. Abdul Malik Amrullah (Hamka) untuk “meminta pemeriksaan dan bandingan” sebagai salah satu pakar sejarah Islam pada masa itu. Namun, “mulanya belumlah saya acuhkan benar,” kata Hamka.

Alasannya agak kurang etis, menurutku: “Karena [Suwarsih] sebagai seorang yang berpendidikan Barat, saya pikir, tentu buku-buku yang dibacanya tentang Riwayat Hidup Muhammad s.a.w. hanyalah dari sumber Barat. Padahal saya sudah agak lama mendengar nama pengarang, sebagai seorang wanita yang amat besar minatnya kepada kesusastraan. Malahan sampai mendapatkan penghargaan yang baik karena suatu karangan dalam bahasa asing.”

Justru, yang aku tahu, maraknya penulisan biografi Muhammad karena pengaruh ilmu sejarah Barat yang bertemu (kembali) dengan pemikiran Ibnu Khaldun.

Secara umum, memang masih sangat sedikit sekali penulis perempuan yang menulis seorang nabi yang dalam tradisi agama monoteistik ibrahimi laki-laki. Kekurangan ini memang akan sangat terasa sekali jika kita melihat dalam tradisi keilmuan di Indonesia, khususnya dari kalangan tradisional pesantren yang, harus diakui, tidak begitu berhasrat menulis sejarah secara kritis. Begitu juga, agak kurang bisa diharapkan dari kelompok (neo)modern khususnya dari kaum perempuannya yang belum begitu kuat tradisi penulisan sejarahnya.

Penulisan sejarah hidup Nabi Muhammad dari persepktif perempuan dan ditulis oleh seorang perempuan bisa mengimbangi berbagai kekurangan pemahaman kita tentang sosok Nabi Muhammad.

Tentu saja umat Islam Indonesia harus sangat bersabar menunggu buku biografi Muhammad yang ditulis perempuan Indonesia itu. Umat Islam Indonesia (bahkan hampir di seluruh dunia Islam) memang masih tertinggal jauh dalam tradisi (filsafat) penulisan sejarah.

Baca Juga

Annemarie Schimmel dan Perjumpaan dengan Gus Dur

Autobiografi Annemarie Schimmel dan Perjumpaan dengan Gus Dur
MINGGU, 22 DESEMBER 2019

Ibu Schimmel memeluk kucing kesayanganya (wildriverreview.com)

Annemarie Schimmel adalah salah satu orientalis kenamaan asal Jerman yang memiliki perhatian besar dalam kajian Islam dan Sufisme.

Schimmel, sebagaimana diulas secara singkat oleh Abdussalam Haidar dalam pengantar terjemahan buku autobiografinya, adalah seorang pribadi yang memiliki konsen di isu hubungan antara Barat dan Timur (Baca: Islam). Baik saat ia mengajar di Fakultas Teologi dan Perbandingan Agama di Ankara (1954-1959) maupun saat ia mengajar di Marburg dan Bonn (1959-1968) dan di Harvard (1969-1967).

Schimmel menguasai banyak bahasa. Dari Arab, Turki, Persia, Sindi, Punjabi, Urdu, dan sejumlah bahasa lainnya). Kontribusinya yang cukup besar dalam menyemai hubungan baik antara Barat dan Timur ini membawanya menyabet penghargaan perdamaian (Peace Prize of The German Book Trade) pada tahun 1995. Stephen Kinzer menulis sebuah artikel obituari atas wafatnya pakar tasawuf yang juga mengidolai Jalaludin Rumi ini.

Dalam tulisannya bertajuk “Annemarie Schimmel, Influential Scholar of Islam, Dies at 80” yang dimuat di New Yok Times tersebut, ia mengatakan bahwa tidak sedikit sarjana-sarjana Jerman yang mengkritik penghargaan yang diperoleh oleh Annemarie Schimmel. Salah satunya adalah filsuf kenamaan Jerman, Jürgen Habermas.

Annemarie Schimmel menulis lebih dari 50 judul buku dan ratusan artikel yang diterbitkan di banyak negara. Buku-bukunya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia. Tak terkecuali dalam bahasa Indonesia.

Ia menulis buku autobiografinya yang berisi perjalanan hidupnya baik di Barat maupun di dunia Timur. Buku tersebut diberi judul Morgenland und Abendland: Mein west-östliches Leben (Munich, 2002). Selang dua tahun kemudian, buku autobiografinya ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh Abdussalam Haidar dengan judul Al-Syarq wa al-Gharb: Hayati al-Gharb-Syarqiyyah (Timur dan Barat: Perjalananku di Dunia Barat dan Timur). Sang penerjemahnya sendiri merupakan seorang akademisi dan penerjemah otoritatif yang menyelesaikan jenjang doktoralnya di Otto-Friedrich-University Bamberg Jerman tahun 2002.

Ia sendiri sebenarnya cukup enggan menuliskan biografi dirinya. Hanya saja permintaan khusus dari para muridnya yang ingin mengetahui sejarah bagaimana ia belajar, terutama di masa-masa perang di Berlin, menggugahnya untuk menulis autobiografi.
IKLAN - LANJUTKAN MEMBACA DI BAWAH INI

Bertandang ke Indonesia dan Berdiskusi dengan Gus Dur
Baca juga: Mengenal Kitab Pesantren (7): Hadis Arbain Karya Syaikh Mahfuzh al-Tarmasi

Buku autobiografinya ini dibagi menjadi tujuh bab. Pada bab pertama ia menceriterakan masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa (1922-1945). Yang menarik, di sub bab dalam bab pertamanya ini ia mengawali tulisannya dengan mengurai kalimat yang dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Ali “an-nasu niyamun, faidza matuu intahabuu” (kalimat ini juga terlukis di batu nisan makamnya) yang artinya kurang lebih: semua manusia tertidur. Mereka baru tersadarkan saat mereka mati.

Bab kedua ia mengisahkan tahun-tahun awal pasca perang (1945-1952). Kemudian di bab ketiga (1952-1959) ia menulis tentang Turki yang di mana pada saat itu ia tinggal di sana. Bab keempat (1959-1967) ia menuturkan kembali tanah kelahirannya, Bonn Jerman. Di bab selanjutnya, bab kelima (1967-1992) ia menulis tentang masa-masa ia tinggal di Amerika. Selanjutnya pada bab keenam ia menulis tentang perjalanannya ke negeri timur (meliputi Kuwait, Bahrain, Suriah, Jordania, Mesir, Sudan, Tunis, Maroko, Yaman, dan Arab Saudi, Iran, Afganistan, Asia Tengah, Pakistan dan India, Hingga sub-bab singkat tentang Indonesia).

Nah, di sub bab-nya berjudul “Indonesia” ini ia mengisahkan perjalanannya saat berkunjung ke Jakarta. Isinya cuman sekitar tiga halaman. Namun, yang diceritakan cukup menarik, yaitu perjumpaannya dengan Gus Dur yang saat itu menjadi Presiden Republik Indonesia.

Ia sendiri menyatakan bahwa sangat jarang ia melawat ke Asia Tenggara. Pertama kalinya ia datang ke Asia Tenggara pada tahun 1993. Itu pun bukan ke Indonesia. Melainkan ke Malaysia untuk bertemu dengan Sayyid Naquib Alatas.

Baru pada awal tahun 2000 ia bertemu dengan seorang mahasiswi dari Indonesia yang saat itu mengunjungi saudaranya di Jerman. Sang mahasiswi mengenal nama Annemarie Schimmel karena buku-bukunya sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pada pertengahan musim panas, ia mendapat undangan dari Goethe Institut untuk pergi ke Jakarta. Singkat cerita, ia kemudian diajak duta besar Jerman yang sebelumnya sudah terjadwalkan untuk bertemu dengan Presiden Gus Dur di Istana Merdeka.

Tentang pertemuannya dengan Presiden ke-4 RI ini ia menulis:

“Beliau dikenal oleh masyarakatnya dengan panggilan Gus Dur. Seorang presiden yang secara fisik “tidak sempurna” dan (selalu) ditemani putrinya (Yeni Wahid) yang menyenangkan dan memiliki pengetahuan luas. Topik obrolan kami sangat beragam. Dari mulai musik simponi nomor 9-nya Beethoven, politik, mazhab-mazhab sufi dalam Islam hingga sepakbola.”

Baca Juga



Buka menu navigasi CariCari Rahasia Titik BA PDF Diunggah oleh Saraswanto 94%(54)94% menganggap dokumen ini bermanfaat (54 suara) 15K tayan...