Kafillah

  1. Annemarie Schimmel
  2. Abah Guru sekumpul
  3. Apa itu Gibah?......
  4. Adapun yang wajib kita ketahui bagi Alloh ta'ala yaitu ada 20 perkara 
  5. Asmaul husna
  6. Annemarie Schimmel dan Perjumpaan dengan Gus Dur
  7. Bacaan Sholat
  8. Bagaimana seharusnya mewujudkan kesabaran
  9. Berjalanlah dijalan tuhan dan perhatikan apa yang terjadi
  10. Dalil Sholat tasbih
  11. Do'a
  12. DR.Zakir Naik
  13. Firman Tuhan yang mengatur tentang kehidupan manusia
  14. Hakekat Masjid
  15. Hikmah hati
  16. Idul adha yang jatuh pada hari jumat  
  17. Ilmu titik ba
  18. Isra Mi'rad
  19. Jihat  Jamaah tablih
  20. Kelingking mu
  21. Keutamaan shalat Subuh
  22. KH.Abdul Karim Djamak
  23. Macam-Macam sholat Sunah
  24. Mengapa mereka tidak mauberima beriman
  25. Mulai mengenal jam'iyyatul Islamiyah 
  26. Peringatan Tuhan tentang kiamat:
  27. Para Perempuan Penulis Nabi Muhammad
  28. Pebedaan kakbah dan Baitullah
  29. Perasaan orang sudah yang sudah mati
  30. Prof.Dr.Hamka
  31. Riwayat hidup dan perjuangan Sheh haji Abdurrahman Silau laut 
  32. Robohnya Surau kami
  33. Rukun Sholat 13 perkara
  34. Sejarah singkat Islam di Amerika
  35. Suara hati
  36. Sholawat badar
  37. Tasawuf
  38. Telaahan tentang sholat
  39. The last Lecturr
  40. Ungkapan Hati seorang Prof BJ Habibie Soal Akhirat
  41. Qur'an


Para Perempuan Penulis Nabi Muhammad

Dalam tradisi penulisan sejarah hidup Nabi Muhammad, kita lebih banyak mendapati para penulis lelaki. Jarang sekali kita menemukan dari penulis perempuan, apalagi penulis perempuan dari tradisi khazanah keilmuan di Indonesia yang tradisi menulis sejarahnya untuk kalangan perempuan Indonesia sangat memprihatinkan dan mengecewakan meski beberapa dekade ini semakin membaik.

Di antara yang sedikit ini, yang pertama bisa kita sebut adalah penulis terkenal Karen Amrstrong, yang menulis Muhammad, Biography of the Prophet (Muhammad, Biografi Sang Nabi) dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh beberapa penerbit.

Karen Amrstrong menggunakan pendekatan sejarah kritis dan perbandingan agama, termasuk penggunaan berbagai referensi dari tradisi agama-agama Ibrahimi dan non-Ibrahimi. Pendekatan ini menjadi penting dan relevan mengingat buku yang ditulis, seperti dikatakan Karen Armstrong:

“Terusik dengan prasangka terhadap Islam…bahkan di kalangan yang paling liberal dan toleran.”

Semua prasangka ini sebagian berangkat dari kurangnya pemahaman sejarah hidup Muhammad itu sendiri. Dan, bukan tidak mungkin hal ini juga menjangkiti umat Islam sendiri, khususnya seperti di Indonesia yang tidak terbiasa dengan tradisi sejarah kritis, bahkan penulisan sejarah Muhammad masih sangat minimalis sekali.

Saat melihat polemik perihal istri-istri Nabi Muhammad yang penuh prasangka intimidatif, Karen Armstrong memberikan perbandingan perihal masalah ini dalam beberapa agama khususnya dalam tradisi Yahudi dan Kristen.

Selain itu, ada dua alasan lagi yang dikemukakan Karen Armstrong. Yang pertama, tidak ada alasan kuat yang mendukung perihal nafsu seksual yang menyimpang atau hasrat berlebih pada kecantikan.

Kedua, ada lebih banyak alasan pernikahan politis yang dilakukan Nabi Muhammad dalam banyak pernikahannya, khususnya setelah istri pertama dan istri tercintanya meninggal, Khadijah.

Secara umum, buku biografi Nabi Muhammad karya Karen Armstrong barangkali adalah yang terbaik yang pernah ditulis oleh penulis perempuan sampai saat ini.

Dan sungguh bakal menunggu satu abad lebih bagi penulis perempuan Indonesia, barangkali, untuk menandinginya karya Karen Amstrong ini, mengingat kebudayaan menulis bagi perempuan muslim Indonesia masih tertinggal jauh.

Penulis perempuan kedua yang menggarap tema Nabi Muhammad adalah cendekiawan ulama Annemarie Schimmel yang menulis And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety (Dan Muhammad adalah Utusan Allah) yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan beberapa kali dicetak ulang.

Keunggulan buku ini, jika dibandingkan dengan buku-buku serupa, terletak pada fokusnya untuk melihat perspektif umat Islam itu sendiri terhadap Muhammad, lebih difokuskan pada bagaimana kecintaan umat Islam pada sosok Nabi Muhammad, yang bahkan lebih marah jika dihina daripada Allah.

Annemarie Schimmel memang tidak menulis tentang sejarah hidup Nabi Muhammad, tapi lebih ditekankan pada berbagai aspek Nabi Muhammad dalam kehidupan umat Islam, khususnya di Timur Tengah, khususnya dari berbagai karya tulis biografis dan hagiografis perihal Nabi Muhammad yang ditulis umat Islam.

Dengan pendekatan tersebut, Annemarie Schimmel ingin mengungkapkan peran, persepsi, dan ritual umat Islam dalam beragama terhadap sosok pribadi Nabi Muhammad Saw. Sayang, buku ini tidak memberikan bab khusus perihal perilaku cinta umat Islam di Indonesia. Dan lebih sayang sekali, sedikit sekali buku yang secara khusus mencoba melakukan apa yang ditulis Annemarie Schimmel dengan mengambil kasus perayaan maulid Muhammad di Indonesia dan dengan pendekatan yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik.

Selain itu, Annemarie Schimmel juga menulis My Soul is a Women: The Feminine in Islam (Jiwaku adalah Wanita: Aspek Feminin dalam Spiritualitas Islam). Dalam buku elegan menawan ini, setelah prolog, Annemarie Schimmel langsung membuka bab pertama Kaum Wanita dan Nabi, dengan hadis yang sangat masyhur dalam Islam: Allah telah membuatku menyayangi dari duniamu kaum wanitadan wewangiannya, dan kebahagian bagi mataku adalah ketika shalat. Untuk menepis prasangka yang hidup di Eropa dan Amerika, di bawah hadis itu, Annemarie Schimmel kemudian menulis:

“Perkataan Nabi Muhammad ini telah sangat sering dikutip—jadi, bagaimana mungkin Islam bisa dikenal sebagai agama yang berpandangan negatif terhadap kaum wanita?”

Ada juga nama penulis cendekiawan perempuan yang dalam beberapa karyanya menulis Nabi Muhammad Saw seperti Amina Wadud dan Margaret Smith. Jika beberapa penulis perempuan ini berasal dari tradisi intelektual Eropa dan Amerika Serikat, sebenarnya ada penulis perempuan Indonesia yang juga menulis buku riwayat Muhammad, Suwarsih Djojopuspito.

Suwarsih Djojopuspito terkenal dengan novel Manusia Bebas ini—novel yang awalnya ditulis dengan bahasa Belanda dan untuk publik intelektual Belanda dan Indonesia— menulis buku Riwayat Hidup Nabi Muhammad SAW yang pertama kali diterbitkan pada 1959, lalu untuk cetakan kedua diterbitkan Pustaka Jaya pada 1976.

1959 adalah angka kemajuan cukup pesat, untuk tidak mengatakan cukup berani, bagi perempuan Indonesia secara historis keilmuan. Saya belum tahu apakah masih perempuan Indonesia yang berani menulis sejarah hidup Muhammad saw sampai sekarang. Yang perlu dicatat, setahuku, hanya dialah sastrawan perempuan Indonesia yang menulis biografi Muhammad sampai saat ini.

Menilik riwayat pendidikannya yang berbasis kebudayaan Eropa, perjuangan Suwarsih dalam sejarah politik dan pendidikan Indonesia, dan latar sejarah keluarga priyayi Jawa dalam pengalaman hidupnya, buku ini memberikan perspektif yang sangat menarik untuk kita baca saat ini, khususnya dilihat dari perspektif perempuan. Pada kata PENDAHULUAN yang hanya dua paragraf pendek, Suwarsih menuliskan maksud penulisan bukunya:

“Di dalam bahasa Indonesia masih sedikit sekali buku-buku yang menceritakan riwayat Nabi Muhammad s.a.w. dengan kata-kata dan cara, yang sesuai dengan alam pikiran pemuda dan pemudi jaman sekarang.”

Yang menarik, sebelum diterbitkan, Suwarsih meminta cendekiawan kondang H. Abdul Malik Amrullah (Hamka) untuk “meminta pemeriksaan dan bandingan” sebagai salah satu pakar sejarah Islam pada masa itu. Namun, “mulanya belumlah saya acuhkan benar,” kata Hamka.

Alasannya agak kurang etis, menurutku: “Karena [Suwarsih] sebagai seorang yang berpendidikan Barat, saya pikir, tentu buku-buku yang dibacanya tentang Riwayat Hidup Muhammad s.a.w. hanyalah dari sumber Barat. Padahal saya sudah agak lama mendengar nama pengarang, sebagai seorang wanita yang amat besar minatnya kepada kesusastraan. Malahan sampai mendapatkan penghargaan yang baik karena suatu karangan dalam bahasa asing.”

Justru, yang aku tahu, maraknya penulisan biografi Muhammad karena pengaruh ilmu sejarah Barat yang bertemu (kembali) dengan pemikiran Ibnu Khaldun.

Secara umum, memang masih sangat sedikit sekali penulis perempuan yang menulis seorang nabi yang dalam tradisi agama monoteistik ibrahimi laki-laki. Kekurangan ini memang akan sangat terasa sekali jika kita melihat dalam tradisi keilmuan di Indonesia, khususnya dari kalangan tradisional pesantren yang, harus diakui, tidak begitu berhasrat menulis sejarah secara kritis. Begitu juga, agak kurang bisa diharapkan dari kelompok (neo)modern khususnya dari kaum perempuannya yang belum begitu kuat tradisi penulisan sejarahnya.

Penulisan sejarah hidup Nabi Muhammad dari persepktif perempuan dan ditulis oleh seorang perempuan bisa mengimbangi berbagai kekurangan pemahaman kita tentang sosok Nabi Muhammad.

Tentu saja umat Islam Indonesia harus sangat bersabar menunggu buku biografi Muhammad yang ditulis perempuan Indonesia itu. Umat Islam Indonesia (bahkan hampir di seluruh dunia Islam) memang masih tertinggal jauh dalam tradisi (filsafat) penulisan sejarah.

Baca Juga

Annemarie Schimmel dan Perjumpaan dengan Gus Dur

Autobiografi Annemarie Schimmel dan Perjumpaan dengan Gus Dur
MINGGU, 22 DESEMBER 2019

Ibu Schimmel memeluk kucing kesayanganya (wildriverreview.com)

Annemarie Schimmel adalah salah satu orientalis kenamaan asal Jerman yang memiliki perhatian besar dalam kajian Islam dan Sufisme.

Schimmel, sebagaimana diulas secara singkat oleh Abdussalam Haidar dalam pengantar terjemahan buku autobiografinya, adalah seorang pribadi yang memiliki konsen di isu hubungan antara Barat dan Timur (Baca: Islam). Baik saat ia mengajar di Fakultas Teologi dan Perbandingan Agama di Ankara (1954-1959) maupun saat ia mengajar di Marburg dan Bonn (1959-1968) dan di Harvard (1969-1967).

Schimmel menguasai banyak bahasa. Dari Arab, Turki, Persia, Sindi, Punjabi, Urdu, dan sejumlah bahasa lainnya). Kontribusinya yang cukup besar dalam menyemai hubungan baik antara Barat dan Timur ini membawanya menyabet penghargaan perdamaian (Peace Prize of The German Book Trade) pada tahun 1995. Stephen Kinzer menulis sebuah artikel obituari atas wafatnya pakar tasawuf yang juga mengidolai Jalaludin Rumi ini.

Dalam tulisannya bertajuk “Annemarie Schimmel, Influential Scholar of Islam, Dies at 80” yang dimuat di New Yok Times tersebut, ia mengatakan bahwa tidak sedikit sarjana-sarjana Jerman yang mengkritik penghargaan yang diperoleh oleh Annemarie Schimmel. Salah satunya adalah filsuf kenamaan Jerman, Jürgen Habermas.

Annemarie Schimmel menulis lebih dari 50 judul buku dan ratusan artikel yang diterbitkan di banyak negara. Buku-bukunya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia. Tak terkecuali dalam bahasa Indonesia.

Ia menulis buku autobiografinya yang berisi perjalanan hidupnya baik di Barat maupun di dunia Timur. Buku tersebut diberi judul Morgenland und Abendland: Mein west-östliches Leben (Munich, 2002). Selang dua tahun kemudian, buku autobiografinya ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab oleh Abdussalam Haidar dengan judul Al-Syarq wa al-Gharb: Hayati al-Gharb-Syarqiyyah (Timur dan Barat: Perjalananku di Dunia Barat dan Timur). Sang penerjemahnya sendiri merupakan seorang akademisi dan penerjemah otoritatif yang menyelesaikan jenjang doktoralnya di Otto-Friedrich-University Bamberg Jerman tahun 2002.

Ia sendiri sebenarnya cukup enggan menuliskan biografi dirinya. Hanya saja permintaan khusus dari para muridnya yang ingin mengetahui sejarah bagaimana ia belajar, terutama di masa-masa perang di Berlin, menggugahnya untuk menulis autobiografi.
IKLAN - LANJUTKAN MEMBACA DI BAWAH INI

Bertandang ke Indonesia dan Berdiskusi dengan Gus Dur
Baca juga: Mengenal Kitab Pesantren (7): Hadis Arbain Karya Syaikh Mahfuzh al-Tarmasi

Buku autobiografinya ini dibagi menjadi tujuh bab. Pada bab pertama ia menceriterakan masa kecilnya hingga ia tumbuh dewasa (1922-1945). Yang menarik, di sub bab dalam bab pertamanya ini ia mengawali tulisannya dengan mengurai kalimat yang dinisbatkan kepada Sayyidina ‘Ali “an-nasu niyamun, faidza matuu intahabuu” (kalimat ini juga terlukis di batu nisan makamnya) yang artinya kurang lebih: semua manusia tertidur. Mereka baru tersadarkan saat mereka mati.

Bab kedua ia mengisahkan tahun-tahun awal pasca perang (1945-1952). Kemudian di bab ketiga (1952-1959) ia menulis tentang Turki yang di mana pada saat itu ia tinggal di sana. Bab keempat (1959-1967) ia menuturkan kembali tanah kelahirannya, Bonn Jerman. Di bab selanjutnya, bab kelima (1967-1992) ia menulis tentang masa-masa ia tinggal di Amerika. Selanjutnya pada bab keenam ia menulis tentang perjalanannya ke negeri timur (meliputi Kuwait, Bahrain, Suriah, Jordania, Mesir, Sudan, Tunis, Maroko, Yaman, dan Arab Saudi, Iran, Afganistan, Asia Tengah, Pakistan dan India, Hingga sub-bab singkat tentang Indonesia).

Nah, di sub bab-nya berjudul “Indonesia” ini ia mengisahkan perjalanannya saat berkunjung ke Jakarta. Isinya cuman sekitar tiga halaman. Namun, yang diceritakan cukup menarik, yaitu perjumpaannya dengan Gus Dur yang saat itu menjadi Presiden Republik Indonesia.

Ia sendiri menyatakan bahwa sangat jarang ia melawat ke Asia Tenggara. Pertama kalinya ia datang ke Asia Tenggara pada tahun 1993. Itu pun bukan ke Indonesia. Melainkan ke Malaysia untuk bertemu dengan Sayyid Naquib Alatas.

Baru pada awal tahun 2000 ia bertemu dengan seorang mahasiswi dari Indonesia yang saat itu mengunjungi saudaranya di Jerman. Sang mahasiswi mengenal nama Annemarie Schimmel karena buku-bukunya sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pada pertengahan musim panas, ia mendapat undangan dari Goethe Institut untuk pergi ke Jakarta. Singkat cerita, ia kemudian diajak duta besar Jerman yang sebelumnya sudah terjadwalkan untuk bertemu dengan Presiden Gus Dur di Istana Merdeka.

Tentang pertemuannya dengan Presiden ke-4 RI ini ia menulis:

“Beliau dikenal oleh masyarakatnya dengan panggilan Gus Dur. Seorang presiden yang secara fisik “tidak sempurna” dan (selalu) ditemani putrinya (Yeni Wahid) yang menyenangkan dan memiliki pengetahuan luas. Topik obrolan kami sangat beragam. Dari mulai musik simponi nomor 9-nya Beethoven, politik, mazhab-mazhab sufi dalam Islam hingga sepakbola.”

Baca Juga



Keutamaan shalat Subuh

Salah satu shalat yang berat dilaksanakan bagi sebagian besar kaum Muslim, khususnya laki-laki dewasa ini, adalah shalat Subuh secara berjamaah. Padahal, bila melihat kepada keutamaannya, justru shalat Subuh berjamaah memiliki banyak keutamaan yang luar biasa, berikut ini sebagian keutamaan yang terdapat di dalamnya:
Keutamaan shalat Subuh
1. Mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala.
Shalat Subuh berjamaah berpeluang mendapatkan berkah dari Allah Ta’ala. Sebab, aktivitas yang dilaksanakan pada waktu pagi, terlebih aktivitas wajib dan dilaksanakan berjamaah seperti shalat Subuh, telah didoakan agar mendapatkan berkah. Yang mendoakannya adalah Rasulullah shallallahualaihiwasallam:

اللهمَّ باركْ لأمتي في بكورِها

Ya Allah, berkahilah umatku pada waktu paginya. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibn Majah)

2. Mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.
Kondisi pada waktu subuh umumnya masih gelap, walau dengan penerangan listrik yang ada. Namun, dengan kondisi seperti itulah justru terdapat ganjaran yang besar dari Allah Ta’ala bagi manusia-manusia yang menuju masjid buat melaksanakan shalat dengan cahaya yang sempurna di hari Kiamat kelak, dalam hadits disebutkan:

عن بريدة الأسلمي رضي الله عنه عن النبي – صلى الله عليه وسلم قال :بشِّرِ المشَّائين في الظُّلَم إلى المساجد بالنور التام يوم القيامة

Dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang berjalan pada saat gelap menuju masjid, dengan cahaya yang sempurna pada hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

3. Mendapatkan ganjaran shalat malam sepenuh waktunya.
Bisakah kita melakukan shalat malam atau tahajud sepenuh malam? Tentu sangat sulit dengan beragam aktivitas siang hari yang juga harus kita kerjakan. Namun demikian, pahala melakukan shalat malam sepenuh waktu malam ternyata bisa kita dapatkan dengan melakukan shalat Subuh secara berjamaah, dalam hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam disebutkan:

مَن صلى العشاء في جماعة، فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة، فكأنما صلَّى الليلَ كلَّه

“Barang siapa yang melakukan shalat Isya berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat setengah malam. Barang siapa yang melakukan shalat Subuh berjamaah, maka dia sama seperti manusia yang melakukan shalat malam sepanjang waktu malam itu.”(HR. Muslim, dari Utsman bin Affan Radhiallahu ‘anhu)

4. Berada dalam jaminan AllahTa’ala.
Artinya, orang yang melaksanakan shalat Subuh dengan sempurna, antara lain dengan melaksanakannya berjamaah, maka dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah Azzawajalla., dengan begitu, siapa yang berada dalam perlindungan Allah, orang itu tidak boleh disakiti, orang yang berani mencelakakannya terancam dengan azab yang pedih, sebab dia telah melanggar perlindungan yang Allah berikan kepada orang tadi, dalam haditsnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَن صلَّى الصبح، فهو في ذمة الله، فلا يَطلُبَنَّكم الله من ذمَّته بشيء؛ فإن من يطلُبهُ من ذمته بشيء يدركه، ثم يَكُبه على وجهه في نار جهنم

“Barang siapa yang melaksanakan shalat Subuh maka dia berada dalam jaminan Allah. Maka jangan sampai Allah menuntut kalian sesuatu apa pun pada jaminan-Nya. Karena barangsiapa yang Dia tuntut pada jaminan-Nya, pasti Dia akan mendapatkannya. Kemudian dia akan ditelungkupkan pada wajahnya di dalam Neraka.” (HR. Muslim, dari Jundubibn Abdillah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu)

5. Dibebaskan dari sifat orang munafik.
Siapakah dari kita yang bisa menjamin bahwa dirinya telah suci dari penyakit kemunafikan? Bukankah dahulu para tokoh Salaf, yang notabene keimanannya lebih baik daripada kita, senantiasa takut dan khawatir terjangkiti sifat kemunafikan? Lantas, tidakkah kita seharusnya lebih layak untuk khawatir terhadap kondisi kita dewasa ini? Apalagi hidup dalam dunia dengan godaan yang demikian banyak menerpa.

Shalat Subuh secara berjamaah adalah salah satu upaya yang bisa kita tempuh agar bisa terhindar dari terjangkit penyakit kemunafikan itu, disebutkan dalam hadits:

ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما، لأتَوهما ولو حبوًا، ولقد هممتُ أن آمُرَ المؤذِّن فيُقيم، ثم آخُذَ شُعلاً من النار، فأحرِّقَ على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

“Tidak ada Shalat yang lebih berat (dilaksanakan) bagi orang munafik daripada shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka tahu (keutamaan) yang terdapat di dalamnya, niscaya mereka akan melakukannya kendati dengan merangkak. Sungguh aku telah hendak memerintahkan kepada petugas azan untuk iqamat (Shalat) kemudian aku mengambil bara api dan membakar (rumah) orang yang belum tidak keluar melaksanakan Shalat (di masjid).” (HR. Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah)

6. Jamaah shalat Subuh dipersaksikan oleh malaikat.
Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يتعاقبون فيكم ملائكةٌ بالليل وملائكةٌ بالنهار، ويجتمعون ف ي صلاة الفجر وصلاة العصر، ثم يعرُجُ الذين باتوا فيكم، فيسألهم ربُّهم – وهو أعلم بهم: كيف تركتم عبادي؟ فيقولون: تركناهم وهم يصلُّون، وأتيناهم وهم يصلون.

“­Malaikat bergantian melihat kalian pada siang dan malam. Para malaikat itu bertemu di shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian yang bermalam dengan kalian naik (ke langit) dan ditanya oleh Rabb mereka, dan Dia lebih tahu keadaan hamba-hambanya, Bagaimana kondisi hamba-hambaku ketika kalian tinggalkan?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami mendatangi mereka dalam keadaan shalat.” (HR. Bukhari-Muslim)

7. Berpeluang mendapatkan pahala haji atau umrah bila berzikir hingga terbitnya matahari.
Bisa dibayangkan betapa besar ganjaran pahala yang didapatkan bila memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Dasar dari hal ini adalah keterangan dari Anasibn Malik Radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang bersabda:

مَن صلى الغداة في جماعة، ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس، ثم صلى ركعتين، كانت له كأجر حجة وعمرة تامة، تامة، تامة

“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah kemudian dia duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lantas shalat dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi)

8. Kesempatan untuk melaksanakan shalat sunah Subuh.
Kesempatan lain yang bisa didapatkan dengan mengupayakan shalat Subuh secara berjamaah adalah shalat sunah Subuh dua rakaat. Shalat sunat Subuh dua rakaat ini punya kelebihan tersendiri yang disebutkan dalam hadits.

ركعتا الفجر خيرٌ من الدنيا وما فيها

“Dua rakaat (shalat sunah) Subuh lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR. Muslim dari Ummul MukmininAisyah Radhiallahu ‘anha)

9. Keselamatan dari siksa Neraka.
Keselamatan dari siksa Neraka berarti berita gembira tentang masuk Surga. Ganjaran ini tentunya berlaku bagi yang melaksanakan shalat Subuh secara sempurna (berjamaah). Mari perhatikan Hadits berikut:

عن عُمارة بن رويبة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (لن يلج النارَ أحدٌ صلى قبل الشمس وقبل غروبها) رواه مسلم

Dari Umarah Radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak akan masuk Neraka seorang yang shalat sebelum terbitnya matahari (Subuh) dan terbenamnya matahari (Ashar).”(HR. Muslim)

10. Kemenangan dengan melihat Allah Ta’ala pada hari Kiamat nanti.
Tentunya hal ini merupakan ganjaran terbesar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya.

عن جرير بن عبد الله البجلي رضي الله عنه قال: كنا جلوسًا عند رسول الله صلى الله عليه وسلم إذ نظر إلى القمر ليلة البدر، فقال: (أمَا إنكم سترَون ربَّكم كما ترَون هذا القمر، لا تُضَامُّون في رؤيته، فإن استطعتم ألا تُغلبوا على صلاةٍ قبل طلوع الشمس وقبل غروبها، فافعلوا) رواه البخاري ومسلم

Dari Jarir Bin Abdullah al-Bajali Radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian beliau melihat ke bulan di malam purnama itu, Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah bahwa sesungguhnya kalian akan melihat kepada Rabb kalian sebagaimana kalian melihat kepada bulan ini. Kalian tidak terhalangi melihatnya. Bila kalian mampu untuk tidak meninggalkan shalat sebelum terbitnya matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah!” (HR. Bukhari-Muslim)

Semoga motivasi ini memicu kita untuk senantiasa bisa menjaga shalat Subuh secara berjamaah, bahkan menularkannya kepada saudara-saudara kita lainnya 

Dalil Sholat tasbih

Dalil Sholat tasbih
Mengenal Salat Tasbih Menurut Hadis
Salat Tasbih merupakan salah satu salat sunah bagi umat Islam. Menurut Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag, Juraidi, Salat Tasbih diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW kepada pamannya.

"Salat tasbih merupakan salat Sunnah yang di dalamnya pelaku salat akan membaca kalimat tasbih (kalimat 'Subhanallah wal hamdu lillahi walaa ilaaha illallahu wallahu akbar') sebanyak 300 kali (4 rakaat, masing-masing 75 kali tasbih). Salat ini diajarkan Rasulullah SAW kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthallib," tutur Juraidi saat dimintai penjelasan oleh detikcom, Jumat (8/6/2018).

Mengenal Salat Tasbih Menurut HadisDirektur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag, Juraidi (Foto: Dok. Istimewa)

Namun, kata Juraidi, beberapa ulama berbeda pendapat tentang Salat Tasbih. Ada sejumlah hadis yang membicarakan tentang Salat Tasbih.

Sebagian ulama menguatkan tentang Salat Tasbih. Tetapi ada pula pandangan ulama yang melemahkan.

Berikut pemaparannya ole Juraidi:

Hadis yang Membicarakan Shalat Tasbih
Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada 'Abbas bin Abdul Mutthalib,

يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلاَ أُعْطِيكَ أَلاَ أَمْنَحُكَ أَلاَ أَحْبُوكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّىَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِى سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً

"Wahai Abbas, wahai pamanku, sukakah paman, aku beri, aku karuniai, aku beri hadiah istimewa, aku ajari sepuluh macam kebaikan yang dapat menghapus sepuluh macam dosa? Jika paman mengerjakan hal itu, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa paman, baik yang awal dan yang akhir, baik yang telah lalu atau yang akan datang, yang di sengaja ataupun tidak, yang kecil maupun yang besar, yang samar-samar maupun yang terang-terangan. Sepuluh macam kebaikan itu ialah; "Paman mengerjakan shalat empat raka'at, dan setiap raka'at membaca Al Fatihah dan surat, apabila selesai membaca itu, dalam raka'at pertama dan masih berdiri, bacalah; "Subhanallah wal hamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada ilah selain Allah dan Allah Maha besar) " sebanyak lima belas kali, lalu ruku', dan dalam ruku' membaca bacaan seperti itu sebanyak sepuluh kali, kemudian mengangkat kepala dari ruku' (i'tidal) juga membaca seperti itu sebanyak sepuluh kali, lalu sujud juga membaca sepuluh kali, setelah itu mengangkat kepala dari sujud (duduk di antara dua sujud) juga membaca sepuluh kali, lalu sujud juga membaca sepuluh kali, kemudian mengangkat kepala dan membaca sepuluh kali, Salim bin Abul Ja'd jumlahnya ada tujuh puluh lima kali dalam setiap rakaat, paman dapat melakukannya dalam empat rakaat. Jika paman sanggup mengerjakannya sekali dalam sehari, kerjakanlah. Jika tidak mampu, kerjakanlah setiap Jumat, jika tidak mampu, kerjakanlah setiap bulan, jika tidak mampu, kerjakanlah setiap tahun sekali. Dan jika masih tidak mampu, kerjakanlah sekali dalam seumur hidup." (HR. Abu Daud no. 1297)

Ulama yang Melemahkan Hadis Salat Tasbih
Sebagian ulama melemahkan hadis Salat Tasbih. Di bawah ini di antara ulama yang melemahkan tersebut:

1. Ketika mengomentari hadis salat tasbih yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, Abu Bakar Ibnul A'rabi berkata, "Hadits Abu Rafi' ini dha'if, tidak memiliki asal di dalam (hadits) yang shahih dan yang hasan. Imam Tirmidzi menyebutkannya hanyalah untuk memberitahukannya agar orang tidak terpedaya dengannya." (Tuhfzatul Ahwadzi Syarh Tirmidzi, al-Adzkar karya an-Nawawi, hal. 168).

2. Abul Faraj Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan hadis-hadis salat tasbih dan jalan-jalannya, di dalam kitab beliau al-Maudhu'at, kemudian men-dha'if-kan semuanya dan menjelaskan kelemahannya.

3. Imam adz-Dzahabi rahimahullah menganggapnya termasuk hadits munkar (Mizanul I'tidal, 4/213. Dinukil dari Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 32, tahqiq Syaikh Abdullah al-Laitsi al-Anshari).

Takhrij Hadits
Hadits riwayat Abu Dawud 1297; Ibnu Majah, 1387; Ibnu Khuzaimah, 1216; al-Hakim dalam Mustadrak, 1233; Baihaqi dalam Sunan Kubra, 3/51-52, dan lainnya dari jalan Abdurrahman bin Bisyr bin Hakam, dari Abu Syu'aib Musa bin Abdul Aziz, dari Hakam bin Abban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Sanad ini berderajat hasan.

Hadits ini juga memiliki banyak jalan yang menguatkan, sehingga sangat banyak ulama Ahli Hadits yang menguatkannya. Dalam riwayat lain disebutkan,

عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ قَالَ حَدَّثَنِي رَجُل كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ يَرَوْنَ أَنَّهُ عَنَّهُ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ائْتِنِي غَدًا اَحءبُوكَ وَأُثِـيْبُكَ وَأَعْطِيْكَ حَتَّى ظَنَنءتُ أَنَّهُ يُعْطِينِي عَطِيَّة قَالَ إِذَا زَالَ النَّهَارُ فَقثمْ فَصَلّ أَرْبَـعَ رَكَعَاتٍ فَذَكَرَ نَحَوَهُ قَالَ ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَـكَ يَعْنِي مِنْ السَّجْدَةِ الثَّالِيَةِ فَاسْتَوِ جَالِسًا وَلاَ تَقثمْ حَتَّى تُسَبِّحَ عَشْرًا وَتَحْمَدَ عَشْرًا وَتُكَبِّرَ عَشْرًا وَتُهَلِّلَ عَشْرًا ثُمَّ تَصْنَعَ ذَلِكَ فِي الأَرْبَعِ الرَّكَعَاتِ قَالَ فَإِنَّكَ لَوْكُنْتَ أَعُظَمُ أَهْلِ الْـأَرْضِ ذَنْبًا غُفِرَ لَكَ بِذَلِكَ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أُصَلِّيَهَا تِلْكَ الـسَّـاعَةَ قَالَ صَلِّهَا مِنْ اللَّيْـلِ وَالنَّهَار

"Dari Abul Jauza', dia berkata, 'Telah bercerita kepadaku seorang laki-laki yang termasuk sahabat Nabi. Orang-orang berpendapat, dia adalah Abdullah bin Amr, dia berkata, 'Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku, 'Datanglah kepadaku besok pagi. Aku akan memberimu hadiah, aku akan memberimu kebaikan, aku akan memberimu.' Sehingga aku menyangka, bahwa beliau akan memberiku suatu pemberian. Beliau bersabda, 'Jika siang telah hilang, berdirilah, kemudian shalatlah empat rakaat' (Kemudian dia menyebutkan seperti hadits di atas) Beliau bersabda, 'Kemudian engkau angkat kepalamu -yaitu dari sujud kedua-, lalu duduklah dengan sempurna, dan janganlah kamu berdiri sampai engkau bertasbih sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, bertakbir sepuluh kali, dan bertahlil sepuluh kali. Kemudian engkau lakukan itu dalam empat rakaat. Sesungguhnya, jika engkau adalah penduduk bumi yang paling besar dosanya, engkau diampuni dengan sabab itu.' Aku (sahabat itu) berkata, 'Jika aku tidak mampu melakukannya pada saat itu?' Beliau menjawab, 'Shalatlah di waktu malam dan siang.'" (HR. Abu Dawud, no. 1298).

Juga diriwayatkan Thabarani dan Ibnu Majah, no. 1386, pada akhir hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

فَلَوْ كَانَتْ ذُنُوْبُكَ مِثْلَ رَمْلِ عَالِجٍ غَفَرَهَا اللهُ لَكَ

"Seandainya dosa-dosamu semisal buih lautan atau pasir yang bertumpuk-tumpuk, Allah mengampunimu." (Dishahihlan al-Albani dalam Shahih at-Targhib Wat Tarhib, 1/282).

Ulama yang Menguatkan
Namun, sejumlah ulama besar Ahli Hadits telah menguatkan menshahihkan hadits shalat tasbih, di antaranya:

1. Ar-Ruyani rahimahullah berkata dalam kitab al-Bahr, di akhir kitab al-Janaiz, "Ketahuilah, bahwa shalat tasbih dianjurkan, disukai untuk dilakukan dengan rutin setiap waktu, dan janganlah seseorang lalai darinya."

2. Ibnul Mubarak. Beliau ditanya, "Jika seseorang lupa dalam shalat tasbih, apakah dia bertasbih dalam dua sujud sahwi 10, 10 (sepuluh, sepuluh)?" Beliau menjawab, "Tidak, Shalat tasbih itu hanyalah 300 (tiga ratus) tasbih." Dalam riwayat ini, Ibnul Mubarak tidak mengingkari shalat tasbih, yang menunjukkan bila beliau membenarkannya (Al-Adzkar, hal. 169). Imam Tirmidzi rahimahullahberkata, "Ibnul Mubarak dan banyak ulama berpendapat (disyariatkannya) shalat tasbih dan mereka menyebutkan kautamaannya." (Al-Adzkar, hal. 167).

3. Al-Hafizh al-Mundziri (wafat 656 H) berkata, "Hadits ini telah diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi, dan yang paling baik ialah hadits Ikrimah ini. Dan telah dishahihkan oleh sekelompok ulama, di antaranya al-Hafizh Abu Bakar al-Aajuri, Syaikh kami al-Hafizh Abul Hasan al-Maqdisi, semoga Allah merahmati mereka. Abu Bakar bin Abu Dawud berkata, "Aku mendengar bapakku berkata, 'Tidak ada hadits shahih dalam shalat tasbih, kecuali ini'." Muslim bin al-Hajjaj berkata, "Tidaklah diriwayatkan di dalam hadits ini sanad yang lebih baik dari ini (yakni isnad hadits Ikrimah dari Ibnu Abbas)." (Shahih at-Targhib wat Targhib, 1/281, karya al-Mundziri, tahqiq al-Albani).

4. Imam Nawawi rahimahullah (wafat 676 H), beliau membuat satu bab, Bab: Dzikir-dzikir Shalat Tasbih, di dalam kitabnya al-Adzkar, hal. 166. Beliau juga menyebutkan perselisihan para ulama tentang hadits-hadits shalat tasbih, dan beliau termasuk ulama yang menyatakan disyariatkannya shalat tasbih.

5. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (wafat 689 H) berkata, "Disukai untuk melakukan shalat tasbih." (Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 47, tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan).

6. Syaikh as-Sindi (wafat 1138 H) berkata, "Hadits ini (shalat tasbih) telah dibicarakan oleh huffazh (para ulama ahli hadits). Yang benar, bahwa hadits ini hadits tsabit (kuat). Sepantasnya orang-orang mengamalkannya. Orang-orang telah menyebutkannya panjang lebar, dan aku telah menyebutkan sebagian darinya dalam catatan pinggir kitab (Sunan) Abu Dawud dan catatan pinggir kitab al-Adzkar karya an-Nawawi." (Ta'liq dalam Sunan Ibnu Majah, 1/442).

7. Syaikh al-Albani rahimahullah menshahihkan hadits shalat tasbih ini dalam kitab Shahih at-Targhib Wat Targhib, 1/281.

8. Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi al-Atsari berkata mengomentari perkataan Ibnu Qudamah di atas, "Banyak ulama telah menshahihkan isnad hadits shalat tasbih, dan lihatlah (kitab al-Atsar al-Marfu'ah Fil Akhbar al-Maudhu'ah, hal. 123-143, karya al-Laknawi rahimahullah. Beliau telah mengumpulkan hal itu dengan sangat banyak." (Catatan kaki Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 47, tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan).

9. Syaikh Salim al-Hilali menshahihkan hadits shalat tasbih dalam kitab beliau Mukaffiratudz Dzunub.

10. Syaikh Abu Ashim Abdullah 'Athaullah berkata, "Riwayat Abu Dawud; Timidzi; Ibnu Majah; Abdur Razzaq di dalam al-Mushannaf; al-Baihaqi dalam as-Sunan; dan al-Hakim di dalam al-Mustadrak; (derajat hadits) shahih li ghairihi." (I'lamul Baraya Bi Mukaffiratil Khathaya., hal. 40, taqdim: Syaikh Mushthafa al-Adawi).

11. Selain para ulama di atas, yang juga termasuk menshahihkan hadits shalat tasbih ini ialah Imam Daruquthni, Ibnu Mandah, al-Khathib al-Baghdadi, Ibnu shalah, Ibnu Hajar al-Asqalani, as-Suyuthi, Syaikh Ahmad Syakir, dan lainnya.

Kesimpulan
Derajat hadis Salat Tasbih adalah shahih li ghairihi, sehingga dapat diamalkan. Adapun para ulama men-dha'if-kannya atau menyatakan bahwa hadits Salat Tasbih adalah palsu, karena tidak mendapatkan hadis yang kuat sanadnya. Tetapi, hal ini bukan berarti seluruh sanad hadits Salat Tasbih tidak shahih. Karena sebagiannya yang berderajat hasan, kemudian dikuatkan jalan lainnya, sehingga meningkat menjadi shahih li ghairihi. Wallahu a'lam.




Isra Mi'rad

URUTAN RINGKAS ISRAK PERISTIWA YANG BERLAKU DALAM ISRAK MIKRAJ KE ATAS RASULULLAH SAW
Umat Islam seluruh dunia akan menyambut ketibaan peristiwa agung iaitu Israk dan Mikraj yang ada disebut dalam ayat pertama surah al-Israk pada 27 Rejab (20 Julai 2009) InsyaAllah. Mereka tidak akan melepaskan peluang keemasan yang datang sekali setahun dalam bulan hijriah. Ia bagaikan dinanti-nanti oleh pencinta agama Islam, kerana kepentingannya dalam mentarbiyah jiwa manusia ke arah kesempurnaan. Israk dan Mikraj adalah salah satu peristiwa penting yang berlaku pada diri baginda Rasulullah SAW.

Peristiwa ini telah membongkarkan keimanan dan keyakinan umat manusia tentang kekuasaan Allah dan kebenaran kepada kenabian nabi Muhammad SAW. Orang kafir sendiri menjadikan peristiwa Israk Mikraj ini sebagai suatu pembohongan yang menambahkan lagi penolakan mereka terhadap dakwah nabi. Manakala keadaan umat Islam sendiri terbahagi kepada beberapa peringkat iaitu ada yang terus membenarkan nabi seperti Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq, ada pula yang mahu penjelasan terperinci dengan menguji nabi melalui beberapa pertanyaan seperti bilangan pintu dan tiang dalam Masjidil Aqsa bagi membuktikan kebenaran kepada
cerita tersebut dan ada pula yang bersikap menolak terus cerita nabi dan kembali murtad daripada Islam. Peristiwa Isra’ dan Mikraj berlaku di dua tempat utama di bumi sebelum nabi dinaikkan ke Saidatul Muntaha iaitu bumi Mekah dan Palestin malah melalui ayat 1 surah Isra’ menjelaskan bagaimana Allah memberkati bumi Isra’ dan sekitarnya. Sehingga kini bumi Isra’ iaitu Baitul Maqdis, Palestin terus menjadi rebutan 3 agama iaitu Islam, Kristian dan Yahudi sehinggakan keganasan Yahudi dalam membunuh dan merampas tanah milik umat Islam terus berjalan tanpa perikemanusiaan.

Sejarah Perjalanan Israk Mikraj 
Rasulullah SAW mengalami pembedahan dada/perut, dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Malaikat Mika’il. Hati Baginda SAW disuci dengan air zamzam dibuang ketul hitam (‘alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan was-wasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu dan iman ke dalam dada Rasulullah SAW. Setelah itu, dadanya dijahit dan dimeterikan dengan “kahtimin nubuwwah”. Selesai pembedahan, didatangi binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah
dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan “Israk” itu. 

Semasa Israk (Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil Aqsa) Sepanjang perjalanan (Isra’) itu Rasulullah SAW ditemani oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah) Rasulullah telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan sembahyang sebanyak 2rakaat. Antara tempat-tempat berkenaan ialah :
  • Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah.  
  • Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa AS menerima wahyu daripada Allah. 
  • Baitul-Laham (tempat Nabi Isa AS dilahirkan). Dalam perjalanan itu juga Rasulullah SAW menghadapi gangguan jin ‘Afrit dengan api jamung dan dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib, antaranya:
  1. Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. Apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah SAW diberitahu oleh Jibrail: Itulah kaum yang berjihad “Fisabilillah” yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.
  2. Tempat yang berbau harum, Rasulullah SAW diberitahu oleh Jibrail: Itulah bau kubur Masyitah (tukang sisir rambut anak Fir’aun) bersama suaminya dan anak-anaknya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir’aun kerana tetap teguh kepada Allah (tak mahu mengakui Fir’aun sebagai Tuhan).S
  3. orang orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali, Jibrail memberitahu: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).S
  4. orang yang menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.
  5. Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai isteri dan suami.Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: Itulah orang yang makan riba. L
  6. menghimpun seberkas kayu dan dia tak berdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: Itulah orang yang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.
  7. Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali di gunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail: itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.
  8. Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail: Itulah orang yang makan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.
  9. Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: Itulah orang yang bercakap besar (takbur), kemudian menyesal tapi sudah terlambat. 
  10. Seorangperempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.
  11. Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah SAW tidak menghiraukannya. Kata Jibrail: Itulah orang yang mensiakan umurnya sampai tua.
  12. Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.
Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun daripada Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia’, aulia’ dan mursalin menjadi makmum. Padasuatu ketika Rasulullah SAW terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: Baginda membuat pilihan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat. 

Semasa Mikraj (Naik ke Hadhratul Qudus Menemui Allah)
Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah SAW dan Jibrail naik tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).
  1. Langit Pertama: Rasulullah SAW dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu jumpa dengan Nabi Adam AS. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba’ dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan. 
  2. Langit Kedua: Nabi SAW dan Jibrail naik tangga yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. 
  3. Langit Ketiga: Baginda naik langit ketiga dan bertemu dengan Nabi Yusuf AS. 
  4. Langit Keempat: Baginda naik tangga keempat dan bertemu dengan Nabi Idris AS.
  5. Langit Kelima: Baginda naik tangga kelima dan bertemu dengan Nabi Harun AS yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israel. 
  6. Langit keenam: Baginda naik tangga langit keenam dan bertemu dengan nabi-nabi. Seterusnya dengan Nabi Musa AS, Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai termasuk 70000 orang yang masuk syurga tanpa hisab. 
  7. Langit Ketujuh : Baginda naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah: yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah SAW Nabi Ibrahim AS bersabda. “Engkau akan berjumpa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah umat terakhir dan terlalu dha’if , maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu La Haulawala Quwatta Illa Billah. Mengikut riwayat lain, Nabi Ibrahim AS bersabda : “Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ialah lima kalimah iaitu : Subhanallah, Walhamdulillah, Wa La Ila Haillallah Allahuakbar dan La Haulawala Quwatta Illa Billahil Azim. Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga
Setelah melihat beberapa peristiwa lain yang ajaib, Rasulullah dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).

Tangga Kedelapan: Di sinilah disebut “Al – Kursi” yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah SAW menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu. Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. 
Baginda Rasulullah S.A.W dapat menyaksikan pula sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga dan melihat neraka beserta dengan malaikat Malik penunggunya.

Tangga kesembilan: Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah SAW masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki ghaib di dalam nur ‘Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak durhaka kepada ibu bapanya.

Tangga Kesepuluh : Baginda Rasulullah sampai di Hadhratul-Qudus dan Hadhrat Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah S.W.T dengan mata kepalanya, lantas sujud. Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Muhammad, Rasul-Nya.

Allah SWT: Ya Muhammad
Rasullah: Labbaika
Allah SWT: Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan.
Rasulullah: Ya Rabb, Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau
berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau berikan Daud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi.
Engkau kurniakan kerajaan Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin.
Engkau ajarkan ‘Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat
menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati.
Engkau lindungi dia dan ibunya dari pada syaitan.
Allah SWT : Aku ambil mu sebagai kekasih. Aku perkenankan mu sebagai
penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu
dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepada mu pada hari kiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (surah Al Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa
sebelum mu. Aku berikan mu ayat-ayat di akhir surah al Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah “Arasy”. Aku berikan habuan dari pada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakan panji-panji Liwa – ul – hamd. Maka Adam dan semua yang lainya dibawah panji-panji mu. Dan aku fardukan atas mu dan umat mu 50 (waktu)
sembahyang.

Selesai munajat, Rasulullah SAW dibawa menemui Nabi Ibrahim AS kemudian nabi Musa AS yang kemudiannya menyuruh Rasulullah SAW merayu kepada Allah S.W.T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan 5 waktu), baginda tidak mahu lagi
merayu kerana malu kepada Allah, dan akhirnya Allah perkenan memfardukan sembahyang 5 waktu sehari semalam tetapi mengekalkan nilai pahalanya sebanyak 50 waktu juga.

Selepas Mikraj 
Rasulullah S.A.W turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul- Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama

Pengajaran penting daripada Israk dan Mikraj
Menurut Syeikh Prof Dr Yusuf al-Qaradawi, menerusi peristiwa berkenaan, kita boleh fokuskan kepada dua perkara penting, pertama berhubung dengan Masjid al-Aqsa dan hubungan dengan Masjid al-Haram, kedua mengenai kewajipan solat yang diserahkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Persoalannya di sini, mengapa Allah tidak memperjalankan baginda terus ke langit ketujuh, tetapi singgah dahulu di Masjid al-Aqsa? Ini kerana Allah mahukan agar baginda bertemu dengan para anbiya terlebih dahulu bagi menyatakan sokongan pada mereka terhadap kerasulan Nabi Muhammad, di samping mahu baginda singgah di sebuah tempat yang penuh dengan keberkatan dari pada Allah SWT seperti yang disebut dalam ayat pertama surah al-Israk. Kepimpinan baginda menjadi titik tolak penyatuan akidah dan syariat di kalangan para anbiya, justeru baginda menjadi imam solat kepada mereka, iaitu kepimpinan bersifat global, bukan hanya untuk kaum atau bangsa tertentu, malah buat manusia sejagat yang terdiri daripada pelbagai etnik, suku kaum, bangsa yang menunjukkan kebesaran Allah dalam mencipta makhluk bernama manusia.

Hubungan Masjid al-Haram dan Masjid al-Aqsa tidak dapat disangkal oleh individu Muslim yang sayangkan agamanya. Ini kerana dari segi sejarah menunjukkan Masjid al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam sebelum berpindah kepada Masjid al-Haram hingga ke hari ini.

Justeru adalah menjadi tanggung jawab semua pihak khususnya di kalangan umat Islam membebaskan Masjid al-Aqsa dari cengkaman rejim Yahudi-Israel, kerana ia ada kaitan dengan persoalan akidah mereka. Pengajaran kedua terpenting menerusi peritiwa Israk dan Mikraj, ialah pelaksanaan ibadat solat lima waktu, ia merupakan mikraj (lif/tangga) seorang Muslim menghadap Tuhannya, kepentingan solat juga tidak dapat dipersoal oleh mana-mana individu Muslim, walau apapun jawatan dan kedudukannya dalam masyarakat. Apabila solat seseorang itu beres dengan Tuhannya, maka akan bereslah urusan hidupnya yang lain, hubungan roh seorang muslim itu sangat penting dengan Tuhannya, justeru ia ada kaitan dengan kedua-dua masjid yang disebutkan di atas. Apabila seseorang itu menunaikan solat dengan penuh khusuk dan tawaduk, dia seolah-olah sedang berkata-kata dengan Allah, ia terserlah ketika membaca al-Fatihah tujuh belas kali sehari semalam, untuk menyatakan munajat dan aduannya kepada Allah bagi memudahkan tugas dan peranannya untuk menyeru manusia ke jalan kebenaran. Wallahua’lam.

Buka menu navigasi CariCari Rahasia Titik BA PDF Diunggah oleh Saraswanto 94%(54)94% menganggap dokumen ini bermanfaat (54 suara) 15K tayan...